Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Religi Iptek

Inilah Kisah Batik Shaho dari Balikpapan yang Berdiri Sejak 1996, Hadirkan Motif Dayak Unik, Warna Alami Kayu Ulin, dan Jadi Buruan Turis Asing

AdminBTV • Senin, 25 Agustus 2025 | 09:15 WIB

Foto kain Batik Shaho dengan motif ukiran Dayak khas Kalimantan Timur yang menggunakan pewarna alami kayu ulin, simbol budaya dan karya humanis.
Foto kain Batik Shaho dengan motif ukiran Dayak khas Kalimantan Timur yang menggunakan pewarna alami kayu ulin, simbol budaya dan karya humanis.

Balikpapantv.id – Hai Cess! Kalau biasanya Balikpapan identik dengan kota minyak dan industri energi, ternyata ada satu sisi lain yang tidak kalah menarik untuk dikulik. Yup, dunia batik! Sejak tahun 1996, hadir sebuah karya budaya bernama Batik Shaho yang kini menjadi salah satu identitas khas Balikpapan. Uniknya, nama Shaho diambil dari singkatan anggota keluarga pendirinya: Supratono, Haryati, Ardi, Hendri, dan Oki. Dari situ, lahirlah batik dengan corak khas ukiran Dayak yang penuh filosofi dan nilai budaya.

Batik Shaho bukan sekadar kain. Ia adalah cerita panjang tentang pelestarian budaya lokal, kreativitas tanpa batas, dan perjuangan memberdayakan komunitas disabilitas. Motif khasnya terinspirasi dari ukiran Dayak Kenyah dan Bahau yang penuh detail: spiral, lengkungan, hingga figur manusia. Ditambah lagi, pewarna alami dari kayu ulin khas Kalimantan membuat kain ini makin istimewa. Bukan cuma disukai masyarakat lokal, Batik Shaho bahkan sudah jadi incaran turis dari Australia, Amerika, hingga Perancis.

Batik Shaho, Karya Budaya dengan Identitas Kuat

Memang Beda!
Memang Beda!

Batik Shaho berdiri pada 1996 dan namanya unik, diambil dari singkatan anggota keluarga pendiri: Supratono, Haryati, Ardi, Hendri, dan Oki.
Motif khas Batik Shaho terinspirasi dari ukiran Dayak Kenyah dan Bahau yang penuh lengkungan, spiral, lingkaran, hingga figur manusia berkarakter.

Motif Alami dari Kayu Ulin, Ciri Khas Batik Shaho, Batik Shaho menggunakan pewarna alami dari serbuk kayu ulin, tumbuhan khas Kalimantan, membuat warna batik lebih natural dan tahan lama.
Setiap kain menjadi karya seni bernilai tinggi, mencerminkan kearifan lokal, sehingga banyak diminati turis dari Australia, Amerika, hingga Perancis.

Memberdayakan Penyandang Disabilitas Lewat Batik

"Para pekerja di sini rata-rata penyandang disabilitas tuli. Kami ingin memberdayakan dan membantu mereka dengan memberikan lapangan pekerjaan."
Bahkan Oki dan tim juga aktif mengajar membatik di Sekolah Luar Biasa di Balikpapan, menjadi bukti nyata batik ini sarat makna humanis.

Batik Shaho Terdaftar Resmi, Langkah Menuju Ekspansi Lebih Besar

Merek Batik Shaho resmi tercatat di DJKI sejak 2018, jadi modal kuat untuk ekspansi dan mengajukan proposal ke dinas terkait kursus membatik.
"Dampak positif dari pendaftaran merek itu banyak banget. Salah satunya jadi syarat untuk kita mengajukan proposal ke dinas," terang Oki.

Perlindungan Hak Cipta, Upaya Menjaga Warisan Budaya,Oki berencana mencatatkan motif Batik Shaho ke hak cipta agar terlindungi dari pelanggaran, sekaligus menjaga karya budaya agar tetap lestari.
Terdaftarnya merek juga membuat mereka lebih percaya diri mengembangkan usaha, membawa nama Balikpapan semakin dikenal di kancah global.

Jadi, Batik Shaho bukan hanya sekadar kain batik, tapi juga cerita tentang budaya, keberanian, dan solidaritas. Yuk sebarkan cerita ini ke teman-temanmu biar makin banyak yang bangga dengan karya lokal Balikpapan.

Baca Juga: Urus Pajak, SIM, hingga Paspor di MPP Samarinda! Catat Jadwal Layanan Resmi dan Daftar Instansi yang Hadir Layani Warga Setiap Hari

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapantv.id, “Bukan Sekedar Berita Biasa!”

(maysa)

Editor : Arya Kusuma
#Batik Shaho Balikpapan #Batik memberdayakan disabilitas #Batik khas Kalimantan Timur