Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Mengenal 3 Baju Adat Kalimantan Timur yang Penuh Makna dan Pesona Budaya

AdminBTV • Rabu, 9 Juli 2025 | 17:51 WIB

Baju adat Kalimantan Timur Miskat, Takwo, dan Ta’a Sapei Sapaq tampil megah di acara adat. Yuk, intip ceritanya Cess!
Baju adat Kalimantan Timur Miskat, Takwo, dan Ta’a Sapei Sapaq tampil megah di acara adat. Yuk, intip ceritanya Cess!

 

Balikpapantv.id - Hai Cess! Kalau ngomongin budaya Kalimantan Timur, pasti nggak jauh-jauh dari kekayaan tradisi dan adatnya yang masih kental. Salah satu yang menarik buat diulik nih Cess, adalah baju adatnya. Nggak cuma indah dipandang, tapi juga punya cerita sejarah panjang dan makna filosofis yang dalem banget. Nah, di artikel kali ini kita bakal kupas tuntas tiga baju adat Kalimantan Timur yang masih eksis sampai sekarang!

1. Baju Miskat: Peninggalan Sultan yang Kini Wajib Dipakai PNS

Awal cerita datang dari baju adat bernama Miskat. Dulunya, baju ini jadi pakaian resmi para Sultan Banjar, loh. Bentuknya unik karena mirip model baju Cina tempo dulu. Ada sentuhan budaya luar yang diolah jadi khas lokal.

Baju Miskat pria dibuat dengan lengan panjang dan kancing miring ke kanan. Bawahannya celana panjang, plus kopiah sebagai penutup kepala. Sedangkan untuk wanita, modelnya tetap lengan panjang, tapi kancingnya miring ke kiri. Bawahannya dipadukan dengan rok kurung panjang.

Saat ini, baju Miskat malah jadi seragam wajib buat para PNS di Kalimantan Timur saat acara tertentu. Modelnya yang simple tapi tetap elegan bikin nyaman dipakai ke kantor maupun acara formal. Menurut salah satu ASN di Samarinda, “Baju Miskat itu nyaman dipakai, nggak ribet tapi tetap kelihatan berwibawa.”

Memang Beda!
Memang Beda!

Baca Juga: Pilih Mana, Rumah di Tepi Pantai atau di Tengah Kota? Ini Rekomendasi Properti Balikpapan!

2. Takwo: Dulu Cuma untuk Bangsawan, Sekarang Jadi Warisan Budaya Semua Orang

Nah, kalau yang satu ini namanya Takwo. Asalnya dari Kesultanan Kutai, baju adat ini dulu cuma boleh dipakai sama raja dan keturunannya. Nggak sembarangan orang bisa pakai, Cess. Tapi seiring waktu, sekarang masyarakat umum juga udah bisa mengenakan Takwo buat acara-acara adat.

Ada tiga jenis Takwo nih:

  1. Takwo biasa — khusus perempuan

  2. Takwo sebelah — khas laki-laki

  3. Takwo kustim — baju adat buat pasangan pengantin

Warna baju Takwo itu dominan hitam, berbahan beludru atau linen. Kerah dan lengannya dihiasi ukiran emas yang bikin kesan mewahnya dapet. Biasanya, kaum bangsawan juga nambahin pin emas sebagai aksesoris.

Pria mengenakan dodot bermotif batik dan celana panjang. Sedangkan perempuan tetap tampil anggun dengan rok kurung panjang. Baju adat ini melambangkan kebesaran dan status sosial di masa lampau.

Baca Juga: 3 Hotel Termewah di Kalimantan Timur, Fasilitasnya Auto Bikin Betah Seharian!

3. Ta’a & Sapei Sapaq: Simbol Kharisma Suku Dayak Kenyah

Pindah ke baju adat dari pedalaman Kalimantan Timur, ada Ta’a dan Sapei Sapaq. Dua nama ini datang dari Suku Dayak Kenyah. Filosofinya dalam banget, Cess.

Ta’a adalah sebutan untuk baju adat perempuan. Berbentuk atasan tanpa lengan mirip rompi, dihiasi manik-manik warna-warni dengan motif khas. Rok panjang bermotif etnik jadi pelengkapnya. Nggak ketinggalan, aksesoris seperti taring macan, bulu burung enggang, dan gelang manik jadi simbol keberanian dan wibawa.

Sementara itu, Sapei Sapaq adalah baju adat pria Dayak Kenyah. Biasanya dipadukan dengan celana pendek, mandau (senjata tradisional), dan talawang (tameng kayu besi). Kesan gagah dan maskulin sangat terlihat saat pria Dayak memakai pakaian ini.

Bukan Sekadar Warisan, Tapi Identitas Budaya

Ketiga baju adat ini nggak cuma sekadar kain dan benang Cess. Mereka adalah identitas budaya yang terus dipertahankan sampai sekarang. Meski zaman udah modern, masyarakat Kaltim tetap bangga memakainya, apalagi saat perayaan adat atau festival budaya.

Sebagian besar baju adat ini dibuat secara manual, hasil kerajinan tangan pengrajin lokal. Menurut Pak Rahman, pengrajin dari Kutai, “Setiap baju adat itu punya ceritanya masing-masing, dan kita nggak boleh sembarangan buatnya.”

Kapan Biasanya Dipakai?

Baju adat Miskat sering terlihat saat acara kenegaraan, pelantikan pejabat, atau upacara adat resmi. Takwo biasanya dipakai waktu pernikahan adat atau festival budaya. Sedangkan Ta’a dan Sapei Sapaq wajib hadir saat ritual adat Dayak Kenyah atau saat penyambutan tamu kehormatan.

Bahkan, di beberapa sekolah dan instansi pemerintahan, ada aturan mengenakan baju adat tiap bulan untuk melestarikan budaya lokal.

Makna di Balik Ornamen dan Warna

Nggak sembarangan dipilih, ornamen dan warna dalam baju adat Kalimantan Timur punya filosofi sendiri. Warna hitam di Takwo melambangkan kebesaran dan ketegasan. Manik-manik warna-warni di baju Dayak melambangkan harmoni dan keseimbangan alam.

Kancing miring pada Miskat dipercaya sebagai simbol kerukunan, karena menyatukan dua sisi berbeda di satu titik.

Jadi Simbol Harga Diri dan Warisan Leluhur

Bagi masyarakat Kalimantan Timur, mengenakan baju adat bukan sekadar tradisi, tapi juga harga diri. Pakaian ini jadi pengingat sejarah panjang nenek moyang mereka yang penuh perjuangan dan nilai luhur.

Menurut Bu Erlina, tokoh adat di Tenggarong, “Kalau kita nggak lestarikan, siapa lagi? Budaya itu identitas kita, Cess.”

Yuk, Lestarikan Baju Adat Kaltim!

Sekarang tugas kita nih Cess, generasi muda yang harus terus mengenal dan melestarikan baju adat daerah. Jangan cuma tahu tren baju luar negeri aja, tapi budaya lokal juga kudu eksis di hati kita.

Hai Cess! Mau tahu lebih banyak cerita unik soal budaya Kalimantan Timur lainnya? Bagikan artikel ini ke teman dan keluargamu ya! Siapa tahu bisa jadi inspirasi buat ngadain acara adat bareng.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapantv.id, 'Bukan Sekedar Berita Biasa!'(Rohman)

Editor : Arya Kusuma
#Pakaian Tradisional Kaltim #Baju Adat Kalimantan Timur #Baju Adat Takwo Kutai