Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Bukan Film Fiksi, Kota Bawah Tanah Ini Punya Sekolah hingga Tempat Ibadah

istikhomah • Kamis, 9 Juli 2026 | 08:05 WIB
Lorong utama Derinkuyu Underground City yang memperlihatkan kompleks kota bawah tanah sedalam 85 meter. (BTV/AI)
Lorong utama Derinkuyu Underground City yang memperlihatkan kompleks kota bawah tanah sedalam 85 meter. (BTV/AI)
Durasi Baca: 8 Menit

Topik: Mengulas fungsi, teknologi, dan inspirasi dari kota bawah tanah kuno di Turki

Ikhtisar: Artikel ini membahas sejarah, sistem kehidupan, serta pelajaran penting dari kota bawah tanah yang dibangun untuk menghadapi ancaman dan ketidakpastian.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Jauh di bawah permukaan tanah wilayah Cappadocia, terdapat sebuah kota raksasa bernama c z yang memiliki kedalaman sekitar 85 meter dan mampu menampung hingga 20 ribu orang ketika perang atau serangan datang menghampiri. Kota ini dibangun bukan untuk kemewahan, melainkan untuk bertahan hidup.

Bayangkan sebuah kota lengkap dengan dapur, tempat ibadah, sekolah, gudang makanan hingga kandang ternak, tetapi semuanya berada di bawah tanah. Kadada yang menyangka manusia ribuan tahun lalu sudah memikirkan konsep perlindungan sebesar ini, Ces!

Apakah Derinkuyu sebenarnya sebuah kota atau benteng raksasa?

Banyak arkeolog menyebut Derinkuyu sebagai salah satu sistem perlindungan sipil paling maju di dunia kuno. Kota ini bukan sekadar lorong sempit atau ruang persembunyian sementara.

Di dalamnya terdapat ruang penyimpanan gandum, sumur air mandiri, ventilasi alami, area memasak, ruang belajar hingga gereja bawah tanah. Semua fasilitas itu dirancang agar ribuan orang mampu bertahan selama berminggu-minggu tanpa perlu muncul ke permukaan.

Para peneliti memperkirakan kota ini mulai dikembangkan sejak abad ke-8 sebelum masehi dan terus diperluas oleh berbagai peradaban yang pernah tinggal di wilayah Anatolia.

Menariknya lagi, sebagian besar ruangan dipahat langsung pada batu vulkanik lunak khas Cappadocia yang cukup mudah dibentuk tetapi tetap kuat menopang struktur besar di atasnya.

Baca Juga: Kenapa Makam Tionghoa Banyak Dibangun di Lereng Bukit? Ternyata Ada Penjelasan Arsitekturnya

Sistem ventilasi dan jalur penghubung antar tingkat di dalam kota bawah tanah Derinkuyu. (BTV/AI)
Ilustrasi Sistem ventilasi dan jalur penghubung antar tingkat di dalam kota bawah tanah Derinkuyu. (BTV/AI)

Apa saja teknologi yang membuat kota ini bisa dihuni ribuan orang?

Derinkuyu menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu identik dengan komputer atau mesin modern. Banyak solusi yang digunakan justru mengandalkan pemahaman mendalam terhadap lingkungan sekitar.

1. Sistem ventilasi alami

Terdapat puluhan hingga lebih dari lima puluh saluran udara yang menyalurkan oksigen hingga ke lantai terdalam kota. Bahkan beberapa penelitian menyebut jumlahnya mencapai lebih dari lima puluh dua titik ventilasi.

Teknologi sederhana ini membuat udara tetap segar meskipun ribuan orang berada di ruang tertutup.

2. Sumur air yang terpisah dari permukaan

Sebagian sumur dibuat langsung menuju sumber air bawah tanah sehingga penduduk tidak perlu keluar kota untuk mengambil air ketika pengepungan terjadi.

3. Pintu batu raksasa

Setiap lorong utama memiliki pintu batu berbentuk lingkaran yang hanya bisa digeser dari sisi dalam. Ketika ancaman datang, satu lantai dapat diisolasi tanpa mempengaruhi area lainnya.

4. Pengaturan suhu alami

Suhu di dalam kota relatif stabil sepanjang tahun, berkisar antara 13 hingga 15 derajat Celsius. Kondisi ini membantu penyimpanan makanan tetap awet dalam waktu lama.

5. Tata ruang bertingkat

Area ternak ditempatkan dekat permukaan sementara ruang tinggal berada semakin dalam. Penempatan ini membantu mengurangi bau dan menjaga keamanan penghuni.

6. Jalur evakuasi tersembunyi

Beberapa lorong menghubungkan Derinkuyu dengan kota bawah tanah lain di kawasan Cappadocia. Jalur ini memungkinkan perpindahan penduduk tanpa terdeteksi musuh.

Baca Juga: Hunian Sehat Berawal dari Desain, Arsitektur Modern Utamakan Cahaya dan Sirkulasi Udara

Ruang penyimpanan dan area kehidupan masyarakat kuno di bawah permukaan Cappadocia. (BTV/AI)
Ilustrasi Ruang penyimpanan dan area kehidupan masyarakat kuno di bawah permukaan Cappadocia. (BTV/AI)

Mengapa manusia memilih hidup di bawah tanah?

Jawabannya sederhana: keamanan.

Wilayah Anatolia selama ribuan tahun menjadi jalur perlintasan berbagai kerajaan besar, mulai dari bangsa Persia, Romawi hingga Bizantium. Pergantian kekuasaan dan peperangan membuat masyarakat membutuhkan tempat berlindung yang sulit ditemukan musuh.

Profesor arkeologi bawah tanah Roberto Bixio dari Centro Studi Sotterranei menyebut Derinkuyu sebagai "gunung es batu" karena sebagian besar struktur masih tersembunyi di bawah permukaan bumi.

Bagi masyarakat masa itu, tinggal sementara di bawah tanah bukan pilihan aneh. Itu adalah strategi bertahan hidup yang terbukti efektif selama ratusan tahun.

Apa pelajaran yang bisa dipetik manusia modern dari Derinkuyu?

Kota bawah tanah ini ternyata menyimpan banyak inspirasi yang masih relevan hingga sekarang.

Pertama adalah pentingnya perencanaan jangka panjang. Para pembangunnya tidak hanya memikirkan hari ini, tetapi juga ancaman puluhan tahun ke depan.

Kedua adalah konsep kemandirian sumber daya. Air, udara, pangan, hingga keamanan dirancang agar mampu berfungsi tanpa bantuan dari luar.

Ketiga adalah pemanfaatan kondisi alam sebagai bagian dari solusi. Batu vulkanik digunakan sebagai isolator alami sehingga suhu ruangan tetap stabil tanpa teknologi pendingin.

Arsitek dan perencana kota modern mulai mengadopsi beberapa prinsip serupa untuk pembangunan bunker darurat, pusat data bawah tanah hingga laboratorium penelitian yang membutuhkan perlindungan ekstra.

Contohnya dapat ditemukan pada berbagai fasilitas bawah tanah modern di beberapa negara yang dibangun untuk menghadapi perubahan iklim ekstrem maupun bencana besar.

Baca Juga: 5 Prinsip Arsitektur Tropis yang Membuat Rumah Terasa Sejuk

Apakah kota bawah tanah seperti ini masih mungkin dibangun sekarang?

Secara teknologi tentu memungkinkan.

Namun biaya pembangunan kota bawah tanah modern sangat besar karena membutuhkan sistem ventilasi mekanis, pengolahan limbah, pencahayaan serta struktur tahan gempa yang jauh lebih kompleks dibanding masa lalu.

Ironisnya, manusia kuno justru mampu menghasilkan solusi yang relatif sederhana namun sangat efektif.

Derinkuyu menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi paling canggih. Kadang justru berasal dari kemampuan membaca kebutuhan paling mendasar manusia: rasa aman.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Kota bawah tanah seperti Derinkuyu menunjukkan bahwa kemampuan manusia beradaptasi sering kali muncul ketika kondisi sedang sulit. Dari sudut pandang kota pesisir seperti Balikpapan yang akrab dengan isu perubahan iklim dan perkembangan perkotaan cepat, konsep kemandirian energi, cadangan pangan dan ruang perlindungan layak menjadi bahan pembelajaran. Kadada salahnya melihat masa lalu untuk mencari jawaban masa depan, Ces.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam yang suka sejarah, arsitektur atau teknologi kuno agar semakin banyak yang mengenal kecerdikan manusia lintas zaman.

FAQ

1. Seberapa dalam Derinkuyu Underground City?
Kota ini memiliki kedalaman sekitar 85 meter dari permukaan tanah.

2. Berapa jumlah orang yang dapat ditampung?
Diperkirakan mencapai 20 ribu orang beserta persediaan makanan dan ternak.

3. Di negara mana kota ini berada?
Derinkuyu berada di wilayah Cappadocia, Turki bagian tengah.

4. Mengapa kota ini dibangun di bawah tanah?
Fungsinya sebagai tempat perlindungan saat perang dan invasi musuh.

5. Apakah seluruh bagian kota sudah dibuka untuk umum?
Belum. Hanya sebagian tingkat yang saat ini dapat dikunjungi wisatawan.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
#rumah di bawah tanah #tempat liburan #arsitektur