Durasi Baca: 6 Menit
Ikhtisar: Arsitektur masa kini mulai kembali melihat prinsip rumah tradisional dan desain pasif untuk menciptakan hunian yang lebih nyaman, adaptif terhadap iklim, dan efisien.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kalau melihat rumah zaman sekarang, mungkin yang langsung diperhatikan adalah bentuk fasad, warna dinding, atau desain interiornya.
Padahal, arsitektur bukan cuma soal bagaimana bangunan terlihat. Rumah juga harus mampu merespons panas, hujan, arah angin, cahaya matahari, sampai kondisi lingkungan di sekitarnya.
Menariknya, sejumlah pendekatan yang sekarang kembali mendapat perhatian justru punya kemiripan dengan prinsip yang sejak lama diterapkan pada rumah tradisional Indonesia.
Mulai dari bukaan untuk mengalirkan udara, bentuk atap, pengaturan ruang, hingga pemilihan material, semuanya punya hubungan dengan kondisi iklim setempat.
Arsitektur Modern Tidak Harus Melupakan Prinsip Lama
Perkembangan desain rumah membuat bentuk bangunan semakin beragam. Namun, kebutuhan dasarnya tetap sama: hunian harus nyaman digunakan dan mampu beradaptasi dengan lingkungan.
Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Teknik Sains Bangunan juga mendorong penerapan desain pasif dalam arsitektur Indonesia. Pendekatan ini mempertimbangkan kondisi iklim tropis panas-lembap dan dapat memanfaatkan prinsip arsitektur vernakular Indonesia.
Artinya, konsep lama tidak selalu harus ditinggalkan ketika rumah dibuat dengan tampilan modern.
Justru, prinsip tersebut bisa diterjemahkan kembali menggunakan teknologi, material, serta kebutuhan ruang masa kini.
Baca Juga: Rumah Bergaya Scandinavian di Balikpapan Perlu Adaptasi: Dari Jendela Besar hingga Teritisan
Atap Bukan Sekadar Penutup Rumah
Salah satu bagian bangunan yang punya peran besar adalah atap.
Penelitian yang diterbitkan Jurnal Permukiman menunjukkan bahwa pada arsitektur tradisional Nusantara, bentuk atap memiliki peran penting dalam merespons kondisi iklim mikro. Bentuk dan kemiringan atap menjadi salah satu elemen yang memengaruhi kemampuan bangunan beradaptasi terhadap lingkungan.
Prinsip tersebut masih relevan untuk rumah masa kini.
Atap dengan rancangan yang tepat dapat membantu menghadapi hujan dan paparan matahari. Karena itu, ketika memilih desain rumah, bentuk atap sebaiknya tidak hanya dilihat dari sisi estetika.
Ada fungsi yang harus ikut dipikirkan.
Bukaan Rumah Bisa Menentukan Kenyamanan
Rumah tropis membutuhkan perhatian terhadap sirkulasi udara dan pencahayaan.
Desain pasif pada dasarnya mencoba memanfaatkan kondisi lingkungan untuk membantu menciptakan kenyamanan di dalam bangunan, sehingga ketergantungan terhadap sistem pendingin buatan dapat ditekan.
Penerapan strategi desain pasif pada iklim tropis lembap dikaitkan dengan kenyamanan dan penggunaan pendekatan berbasis kondisi geografis serta iklim mikro.
Karena itu, posisi jendela, ventilasi, bukaan, serta hubungan antar-ruang menjadi bagian penting dari proses perancangan.
Rumah dengan jendela besar memang terlihat menarik. Namun, ukuran dan posisinya tetap perlu disesuaikan dengan arah matahari, angin, serta kebutuhan ruang.
Roster Bisa Jadi Elemen Arsitektur, Bukan Sekadar Hiasan
Salah satu elemen yang menarik dalam desain pasif adalah ventilation block atau roster.
Elemen ini dapat menjadi bagian dari tampilan bangunan sekaligus membantu menciptakan bukaan pada area tertentu.
Balai Teknik Sains Bangunan Kementerian PUPR bahkan pernah mengangkat eksplorasi ventilation block atau roster sebagai salah satu bagian dalam pembahasan desain pasif pada arsitektur tropis Indonesia.
Ini menunjukkan bahwa elemen yang dulu banyak ditemukan pada bangunan lama masih bisa diterjemahkan ke dalam desain kontemporer.
Bentuk roster pun sekarang tidak harus monoton. Pola geometris dan komposisi yang lebih modern dapat membuatnya menjadi bagian dari karakter fasad.
Material dan Selubung Bangunan Ikut Menentukan
Desain pasif tidak berhenti pada bentuk rumah.
Pedoman PUPR mengenai perancangan pasif untuk rumah tapak sederhana mencakup beberapa aspek mulai dari pemahaman iklim, pengelolaan tapak, pemilihan bahan, hingga desain selubung bangunan.
Dengan begitu, material bukan hanya dipilih karena warnanya cocok dengan konsep rumah.
Karakter material, kemampuan merespons lingkungan, serta posisi penggunaannya juga perlu dipertimbangkan sejak tahap desain.
Pendekatan seperti ini membuat arsitektur bekerja secara lebih menyeluruh. Fasad terlihat menarik, tetapi pada saat yang sama tetap memiliki fungsi terhadap kenyamanan bangunan.
Dari Rumah Tradisional ke Rumah Modern
Kalau diperhatikan, sejumlah prinsip tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru.
Rumah tradisional Indonesia berkembang dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan tempat masyarakat tinggal. Penelitian mengenai arsitektur tradisional Nusantara menunjukkan bahwa bentuk bangunan memiliki hubungan dengan respons terhadap iklim mikro.
Yang berubah sekarang adalah cara menerapkannya.
Arsitek dapat mengambil prinsip dasarnya, kemudian menggabungkannya dengan kebutuhan keluarga modern, keterbatasan lahan, teknologi bangunan, serta gaya visual yang lebih kontemporer.
Jadi, rumah modern tidak harus meniru rumah tradisional secara mentah.
Yang lebih penting adalah memahami mengapa sebuah elemen digunakan.
Baca Juga: Rumah Masa Depan! 6 Inspirasi Smart House di PPU dengan Konsep Bangunan Cerdas Nusantara
Bagaimana Kalau Diterapkan di Balikpapan?
Buat bubuhan Balikpapan, pembahasan seperti ini cukup relevan karena hunian tetap berhadapan dengan kondisi lingkungan tropis.
Artinya, desain rumah tidak cukup hanya mengejar tampilan yang sedang populer.
Orientasi bangunan, bukaan, perlindungan terhadap hujan dan matahari, pengaturan udara, sampai pemilihan material dapat dipikirkan sejak awal agar rumah lebih sesuai dengan lingkungan.
Apalagi, perkembangan desain rumah sekarang semakin memungkinkan prinsip fungsional tersebut dikombinasikan dengan tampilan minimalis dan modern.
Hasil akhirnya bukan berarti rumah harus terlihat seperti bangunan tradisional.
Sebaliknya, prinsip tradisional bisa hadir secara lebih halus melalui cara rumah mengatur udara, cahaya, panas, air hujan, dan hubungan dengan lingkungan.
Poin Penting
-
Arsitektur modern tetap dapat mengambil prinsip dari arsitektur vernakular Indonesia.
-
Desain pasif mempertimbangkan kondisi iklim dan lingkungan sejak tahap perancangan.
-
Atap memiliki fungsi penting dalam merespons panas dan hujan.
-
Bukaan dan ventilasi perlu disesuaikan dengan kondisi bangunan.
-
Roster dapat digunakan sebagai elemen desain sekaligus bagian dari strategi ventilasi.
-
Pemilihan material dan selubung bangunan juga menjadi bagian dari desain pasif.
-
Prinsip tersebut dapat diterapkan pada rumah modern tanpa harus meniru bentuk rumah tradisional secara keseluruhan.
Insight Redaksi
Arsitektur yang baik bukan cuma yang enak difoto.
Rumah akan benar-benar terasa nyaman ketika desainnya memahami tempat bangunan itu berdiri. Di Indonesia yang beriklim tropis, panas, hujan, angin, dan cahaya matahari seharusnya menjadi bagian dari pertimbangan desain sejak awal.
Menariknya, banyak prinsip tersebut sebenarnya sudah lama dikenal dalam arsitektur tradisional Nusantara.
Jadi, perkembangan arsitektur bukan selalu tentang menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Kadang, ada prinsip lama yang justru perlu dipahami kembali lalu diterapkan dengan cara yang lebih sesuai dengan kehidupan sekarang.
Nah, kalau menurut ikam, rumah modern zaman sekarang masih perlu mengambil inspirasi dari arsitektur tradisional kada, Ces?
FAQ
1. Apa yang dimaksud desain pasif dalam arsitektur?
Desain pasif merupakan pendekatan perancangan yang memanfaatkan kondisi lingkungan seperti iklim, cahaya, dan pergerakan udara untuk membantu menciptakan kenyamanan bangunan.
2. Mengapa arsitektur tradisional masih relevan?
Arsitektur tradisional dapat memberikan pelajaran mengenai cara bangunan merespons kondisi lingkungan setempat. Prinsip tersebut dapat diterapkan kembali dengan menyesuaikannya terhadap kebutuhan masa kini.
3. Apa fungsi roster pada rumah?
Roster atau ventilation block dapat menjadi elemen arsitektur yang membantu menyediakan bukaan udara sekaligus memberikan karakter visual pada bangunan.
4. Apakah rumah modern harus memakai desain tradisional?
Tidak. Prinsip arsitektur tradisional dapat diadaptasi tanpa harus meniru bentuk bangunannya secara keseluruhan.
5. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam desain rumah tropis?
Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan antara lain kondisi iklim, orientasi bangunan, bukaan, ventilasi, bentuk atap, material, pengelolaan tapak, dan selubung bangunan.
6. Apakah desain pasif hanya untuk rumah baru?
Tidak. Prinsip desain pasif juga dapat menjadi pertimbangan ketika melakukan renovasi, selama kondisi bangunan memungkinkan untuk diubah atau dioptimalkan.
Editor : Arya Kusuma