Rumah Kutai di Samarinda, Jejak Hunian Panggung yang Makin Jarang Ditemui

Revan Prasetya Irwansyah Putra • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 05:47 WIB
Rumah Kutai mencerminkan hunian panggung masyarakat Kalimantan Timur yang beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan sungai [BTV:AI]
Rumah Kutai mencerminkan hunian panggung masyarakat Kalimantan Timur yang beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan sungai [BTV:AI]

Durasi Baca: 7 menit

Ikhtisar: Rumah Kutai menyimpan cerita tentang sungai, lingkungan, kebutuhan keluarga, serta cara masyarakat menyesuaikan hunian dengan alam.

 

Balikpapan TV - Hai Ces!

Rumah Kutai menjadi jejak arsitektur masyarakat Kutai di Samarinda dan Kutai Kartanegara yang memperlihatkan cara hunian menyesuaikan lingkungan setempat.

Dari lantai yang ditinggikan hingga ruang terbuka di dalamnya, ada alasan di balik bentuk rumah ini. Yuk, kita lihat ceritanya.

Rumah yang Tidak Sekadar Berdiri di Atas Tanah

Ada rumah yang sejak awal memang tidak dibuat untuk sekadar berdiri di atas tanah. Lantainya ditinggikan, bagian bawah dibiarkan terbuka, sementara ruang kehidupan keluarga berada di atasnya.

Bentuk seperti ini bukan sesuatu yang asing di Kalimantan Timur. Di wilayah yang kehidupan masyarakatnya sejak lama berhubungan dengan sungai dan lahan berair, rumah panggung menjadi bagian dari cara manusia menyesuaikan tempat tinggal dengan lingkungan.

Salah satunya adalah Rumah Kutai.

Di Samarinda, jejak Rumah Kutai pernah ditemukan antara lain di kawasan Palaran. Sementara di Kutai Kartanegara, penelitian arsitektur mencatat keberadaannya di Kota Bangun Seberang, kawasan sekitar Tenggarong, dan Kembang Janggut. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa Rumah Kutai yang masih tersisa semakin terbatas.

Lantas, mengapa rumah ini dibuat berpanggung? Dan apa yang sebenarnya masih bisa dipelajari dari hunian klasik tersebut untuk rumah masa kini?

Ketika Sungai Menjadi Bagian dari Kehidupan

Rumah Kutai tumbuh dalam lingkungan masyarakat Kutai yang banyak bermukim di kawasan bantaran sungai.

Penelitian mengenai Rumah Kutai mencatat bahwa rumah-rumah asli yang masih tersisa ditemukan di kawasan seperti Kota Bangun Seberang, Palaran Samarinda dan Kembang Janggut. Bentuknya memiliki sejumlah kesamaan, terutama pada struktur panggung, pola ruang, atap dan ornamen.

Konteks sungai menjadi penting karena hunian tidak berdiri sendiri. Lingkungan tempat masyarakat hidup ikut memengaruhi cara rumah dibangun.

Penelitian lain mengenai pengembangan Rumah Kutai untuk daerah rawa bahkan menyebut karakter rumah panggung tersebut sesuai dengan kondisi daerah rawa di Kalimantan Timur. Penelitian itu melihat rumah Kutai sebagai salah satu alternatif desain hunian yang dapat dikembangkan dengan teknologi konstruksi masa kini.

Artinya, rumah panggung bukan sekadar bentuk yang dibuat agar terlihat berbeda.

Ada persoalan lingkungan yang ikut dipikirkan.

Rumah Kutai mencerminkan adaptasi hunian panggung terhadap lingkungan sungai dan rawa Kalimantan Timur [BTV:AI]
Rumah Kutai mencerminkan adaptasi hunian panggung terhadap lingkungan sungai dan rawa Kalimantan Timur [BTV:AI]

 Baca Juga: Rumah di Lahan Samarinda: Cara Menyesuaikan Desain dengan Kontur dan Aliran Air

Mengapa Rumah Kutai Dibuat Panggung?

Salah satu ciri paling mudah dikenali dari Rumah Kutai adalah bagian bawahnya yang berupa struktur panggung.

Penelitian Putra dan Thamrin menjelaskan Rumah Kutai memiliki tiga segmen utama secara vertikal. Bagian bawah berupa tiang panggung dan tangga, bagian tengah merupakan ruang hunian, sedangkan bagian atas adalah atap. Ketinggian rumah dapat berbeda-beda, antara lain menyesuaikan posisi lokasi serta ancaman banjir dan hewan liar. Dalam penelitian tersebut, tinggi panggung disebut bervariasi sekitar 1 hingga 2 meter.

Di sinilah bentuk rumah mulai terasa masuk akal jika dilihat dari lingkungan tempatnya tumbuh.

Lantai hunian berada lebih tinggi daripada permukaan tanah. Bagian bawah menjadi ruang bagi struktur bangunan, sementara aktivitas utama keluarga berlangsung di bagian atas.

Pada rumah Kutai asli, ruang bawah pada dasarnya difungsikan sebagai bagian struktur. Dalam perkembangannya, sebagian rumah kemudian memanfaatkannya sebagai kandang atau gudang.

Jadi, rumah panggung tidak semata-mata soal estetika.

Ia merupakan bagian dari cara masyarakat beradaptasi dengan kondisi tempat tinggal.

Rumah Kutai berdiri di atas struktur panggung untuk menyesuaikan hunian dengan kondisi lingkungan setempat [BTV:AI]
Rumah Kutai berdiri di atas struktur panggung untuk menyesuaikan hunian dengan kondisi lingkungan setempat [BTV:AI]

 

Sederhana di Luar, Menarik di Dalam

Menariknya, Rumah Kutai tidak hanya memiliki karakter pada bentuk panggungnya.

Penelitian arsitektur terhadap rumah asli Kutai di Palaran Samarinda dan beberapa wilayah Kutai Kartanegara menemukan pola ruang yang relatif sederhana dan simetris.

Setidaknya ada tiga ruang penting yang menjadi karakter utama, yakni teras depan, ruang tamu dan ruang keluarga.

Teras menjadi ruang peralihan. Letaknya berada di antara area luar rumah dan ruang yang lebih privat.

Fungsinya bukan hanya tempat duduk atau menerima tamu. Dalam kajian tersebut, teras juga menjadi area untuk bersantai sekaligus mengawasi suasana di sekitar rumah.

Setelah melewati teras, terdapat ruang tamu yang bentuk dan luasnya dapat berbeda.

Kemudian ada ruang keluarga yang relatif luas. Ruangan ini menjadi tempat bersantai, makan, minum dan beristirahat. Sekat di dalamnya dapat digunakan sebagai pembatas kamar tidur dan tidak selalu bersifat permanen.

Kalau diperhatikan, konsep tersebut terasa cukup dekat dengan kebutuhan keluarga sekarang.

Hanya saja, masyarakat modern biasanya menerjemahkannya dalam bentuk denah yang lebih tertutup dan permanen.

Rumah Kutai di Palaran Punya Cerita Tersendiri

Salah satu lokasi penting dalam penelitian Rumah Kutai berada di Palaran, Samarinda.

Peneliti menemukan bentuk Rumah Kutai di Palaran memiliki kemiripan dengan rumah asli Kutai di Kota Bangun Seberang. Struktur panggung, pola ruang, bentuk atap dan ornamen menunjukkan karakter yang hampir sama. Namun, rumah di Palaran memiliki pengaruh budaya Belanda yang terlihat antara lain pada bentuk jendelanya yang cenderung kotak-kotak.

Detail kecil seperti ini menarik karena menunjukkan bahwa rumah tradisional tidak selalu berhenti pada satu bentuk yang benar-benar kaku.

Ketika masyarakat berinteraksi dengan lingkungan dan budaya lain, bentuk hunian pun dapat mengalami perubahan.

Namun perubahan tersebut tidak selalu menghilangkan seluruh identitas awalnya.

Mengapa Rumah Kutai Makin Jarang?

Inilah bagian yang membuat Rumah Kutai bukan hanya cerita arsitektur, tetapi juga cerita tentang perubahan kehidupan.

Penelitian tahun 2020 mencatat Rumah Kutai di Kalimantan Timur mulai langka. Rumah-rumah yang tersisa berada di beberapa lokasi tertentu, sementara sebagian lainnya telah mengalami perubahan bentuk dan material.

Kajian yang dilakukan di Kampung Kutai Bensamar, Kutai Kartanegara, juga menemukan persoalan serupa. Rumah Kutai yang dahulu menghiasi kawasan permukiman sebagian telah berganti dengan ruko dan kantor. Sebagian masyarakat juga beralih dari rumah kayu ke rumah beton dan tidak lagi menggunakan bentuk Rumah Kutai sebagai acuan.

Perubahan tersebut sebenarnya mudah dipahami.

Kebutuhan rumah sekarang berbeda. Penghuni membutuhkan kamar yang lebih privat, kamar mandi di dalam rumah, sistem utilitas modern, material yang mudah diperoleh, serta struktur yang dianggap lebih praktis.

Masalahnya, ketika perubahan berlangsung tanpa dokumentasi dan pelestarian, karakter rumah lama perlahan sulit dikenali.

Di sinilah nilai Rumah Kutai menjadi penting.

Bukan berarti semua rumah modern harus kembali dibuat seperti rumah masa lalu. Yang lebih menarik justru melihat prinsip desain yang masih relevan.

Apa yang Bisa Dipelajari Rumah Modern?

Rumah Kutai memberikan beberapa gagasan sederhana yang masih menarik untuk diterapkan.

Pertama, ruang transisi.

Teras menjadi perantara antara luar dan dalam. Dalam rumah modern, konsep ini bisa diterjemahkan menjadi teras, selasar atau ruang semi-terbuka yang membuat perpindahan dari halaman menuju ruang utama terasa lebih nyaman.

Kedua, elevasi bangunan.

Rumah panggung menunjukkan bahwa ketinggian lantai dapat menjadi bagian dari respons terhadap kondisi tapak. Namun, bukan berarti setiap rumah harus dibuat setinggi rumah tradisional.

Ketinggian lantai tetap harus mempertimbangkan kondisi tanah, drainase, lingkungan sekitar dan kebutuhan struktur.

Ketiga, hubungan dengan lingkungan.

Rumah tidak seharusnya dirancang seolah-olah berdiri sendirian. Kondisi lahan, arah datangnya panas matahari, hujan, aliran air dan sirkulasi udara perlu menjadi bagian dari pertimbangan desain.

Keempat, fleksibilitas ruang.

Ruang keluarga Rumah Kutai yang relatif luas dengan pembatas yang dapat berubah menunjukkan bahwa kebutuhan penghuni bisa berkembang. Prinsip fleksibilitas seperti ini masih relevan ketika ukuran rumah semakin terbatas.

Penelitian pengembangan desain Rumah Kutai untuk kawasan rawa juga menunjukkan bahwa karakter tradisional tersebut masih dapat dikembangkan dengan teknologi konstruksi baru.

Jadi, mempertahankan arsitektur tradisional tidak harus berarti menolak teknologi modern.

Jangan Sekadar Meniru Bentuknya

Ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika Rumah Kutai dijadikan inspirasi rumah masa kini.

Jangan hanya mengambil bentuk panggung, atap atau ornamen lalu menganggap persoalan selesai.

Arsitektur tradisional lahir dari hubungan antara manusia dan tempatnya.

Jika rumah dibangun di atas lahan yang berbeda, kebutuhan penghuninya berbeda, dan kondisi lingkungannya berbeda, maka penerapannya pun perlu disesuaikan.

Rumah panggung di lahan rawa tentu memiliki pertimbangan yang berbeda dengan rumah di kawasan perkotaan yang telah memiliki sistem drainase dan infrastruktur berbeda.

Karena itu, yang paling menarik untuk diwariskan bukan hanya bentuk Rumah Kutai, tetapi cara berpikir di balik bentuk tersebut.

Rumah menyesuaikan diri dengan tempat.

Ruang menyesuaikan diri dengan kehidupan penghuninya.

Dan arsitektur berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa harus kehilangan seluruh identitas lokalnya.

Poin Penting

Insight Redaksi

Rumah Kutai mengingatkan kita bahwa rumah klasik tidak selalu dibuat untuk mengejar penampilan.

Bentuknya lahir dari kebutuhan.

Ketika sungai, rawa, tanah, cuaca dan kehidupan keluarga menjadi bagian dari keseharian, rumah pun harus mampu beradaptasi.

Karena itu, ketika arsitektur lama dibicarakan hari ini, yang layak dipertahankan bukan hanya bentuk fisiknya. Cara masyarakat dahulu membaca lingkungan juga menjadi pengetahuan yang masih relevan.

Rumah modern boleh berubah.

Namun, karakter lokal tidak harus ikut hilang.

Bagi pembaca yang sedang mencari inspirasi hunian, prinsip rumah panggung dan ruang terbuka bisa menjadi bahan pertimbangan awal. Tetap sesuaikan dengan kondisi lahan, kebutuhan keluarga dan rancangan struktur yang tepat.

Kalau menurut Ces ada rumah klasik di Kalimantan Timur yang masih menarik untuk dibahas, boleh banget dibagikan ke teman atau keluarga yang juga suka cerita arsitektur lokal.

Sebab, rumah lama kadang bukan cuma menyimpan kenangan. Dari sana kita bisa belajar bagaimana orang-orang terdahulu memahami tempat mereka tinggal.

FAQ

Apa itu Rumah Kutai?

Rumah Kutai adalah rumah tradisional masyarakat Kutai di Kalimantan Timur. Karakternya antara lain terlihat pada bentuk panggung, pola ruang, atap dan ornamen.

Di mana Rumah Kutai masih dapat ditemukan?

Penelitian mengenai Rumah Kutai mencatat beberapa lokasi, antara lain Kota Bangun Seberang dan Kembang Janggut di Kutai Kartanegara serta Palaran di Samarinda.

Mengapa Rumah Kutai berbentuk panggung?

Konstruksi panggung merupakan karakter arsitektur Rumah Kutai. Penelitian mencatat ketinggiannya dapat bervariasi mengikuti lokasi dan kondisi seperti ancaman banjir maupun hewan liar.

Apakah konsep Rumah Kutai masih bisa digunakan untuk rumah modern?

Bisa sebagai inspirasi desain, terutama prinsip adaptasi terhadap lingkungan, ruang transisi dan elevasi bangunan. Penelitian di Kalimantan Timur juga telah mengembangkan desain Rumah Kutai untuk konteks daerah rawa dengan pendekatan konstruksi yang lebih modern.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Rumah Kutai Arsitektur Tradision samarinda Kutai Kartanegara