Durasi Baca: 7 menit
Ikhtisar: Trotoar lebar membuat perjalanan kaki lebih nyaman, aman, inklusif, dan memberi ruang untuk berjalan bersama.
Balikpapan TV - Hai Ces! Trotoar bukan sekadar sisi jalan yang diberi paving block, melainkan ruang yang menentukan apakah pejalan kaki bisa bergerak aman dan nyaman di tengah aktivitas kota.
Bayangkan berjalan bersama teman, pasangan, orang tua, atau anak. Kalau trotoarnya terlalu sempit, obrolan bisa terputus hanya karena salah satu harus turun ke tepi jalan atau bergantian memberi jalan. Dari situ kita bisa melihat bahwa ukuran trotoar ternyata bukan urusan angka semata. Ada soal ruang, keselamatan, kenyamanan, dan bagaimana kita berbagi kota.
Trotoar Bukan Sekadar Jalur Sisa di Pinggir Jalan
Bagi pejalan kaki, lebar trotoar menentukan banyak hal sekaligus.
Trotoar yang cukup memberi ruang untuk berjalan dua arah, sementara orang yang berjalan berdampingan tidak harus terus-menerus menghindar. Ruang yang memadai juga dibutuhkan ketika ada seseorang berhenti sebentar, membawa barang, menggunakan alat bantu mobilitas, atau ketika jalur sedang lebih ramai.
Kementerian Pekerjaan Umum melalui 07/P/BM/2023 Pedoman Perencanaan Teknis Fasilitas Pejalan Kaki menetapkan pedoman mengenai fungsi, penempatan, dimensi, persyaratan teknis, dan prosedur perencanaan fasilitas pejalan kaki di kawasan perkotaan. Pedoman tersebut berstatus berlaku.
Artinya, pertanyaan tentang "trotoar yang cukup lebar" sebenarnya dapat dibahas secara teknis, bukan hanya berdasarkan kesan apakah sebuah trotoar terlihat luas atau sempit.
Yang juga perlu diperhatikan adalah lebar efektif. Lebar efektif merupakan ruang yang benar-benar bisa digunakan untuk berjalan. Jadi, trotoar selebar tertentu belum tentu menyediakan ruang berjalan sebesar angka tersebut jika sebagian areanya terhalang tiang, pohon, tempat sampah, rambu, utilitas, parkir, atau elemen lainnya.
Berapa Lebar yang Dibutuhkan Agar Bisa Berjalan Bersebelahan?
Dalam pedoman teknis 2023, lebar efektif lajur pejalan kaki untuk kebutuhan dua orang pengguna kursi roda berpapasan atau dua orang dewasa dengan barang berjalan berpapasan ditetapkan sekurang-kurangnya 185 sentimeter. Pedoman yang sama menggunakan perhitungan berdasarkan volume pejalan kaki dan tambahan ruang sesuai kondisi kawasan.
Ini memberikan gambaran sederhana: kebutuhan trotoar tidak cukup dihitung hanya dengan membayangkan satu orang berjalan sendirian.
Untuk kawasan dengan aktivitas pejalan kaki tinggi, kebutuhan ruang bisa meningkat. Rumus yang digunakan dalam pedoman adalah:
W = V/35 + N
W adalah lebar efektif minimum trotoar, V merupakan volume pejalan kaki rencana dua arah, sedangkan N merupakan tambahan lebar berdasarkan kondisi setempat. Nilai tambahan tersebut berbeda menurut tingkat bangkitan pejalan kaki.
Dengan kata lain, trotoar di depan kawasan yang ramai tidak semestinya diperlakukan sama dengan trotoar di lingkungan yang aktivitas jalannya rendah.
Di sinilah ukuran 1,85 meter menjadi penting. Angka tersebut bukan berarti setiap trotoar di semua lokasi otomatis harus berhenti pada ukuran itu. Jika arus pejalan kaki lebih tinggi atau terdapat kebutuhan fasilitas tambahan, perencanaan harus mempertimbangkan kebutuhan ruang yang lebih besar.
Kenapa Jalan Bersebelahan Itu Penting?
Mungkin terdengar sepele. Bukankah orang bisa berjalan satu di depan dan satu di belakang?
Bisa. Tetapi kota yang nyaman tidak seharusnya membuat orang terus-menerus mengatur posisi tubuh hanya karena ruang jalannya terlalu sempit.
Berjalan bersebelahan adalah bagian dari aktivitas sehari-hari. Orang tua menemani anak, teman berbincang, seseorang mendampingi anggota keluarga, atau dua orang berjalan menuju halte. Ruang publik yang baik memberi kesempatan untuk melakukan aktivitas tersebut tanpa membuat pejalan kaki terus bernegosiasi dengan ruang yang terlalu terbatas.
Urbanist Jeff Speck menjelaskan konsep walkability melalui empat kualitas: “useful, safe, comfortable, and interesting.” Jalan kaki, menurut kerangka tersebut, perlu berguna, aman, nyaman, dan menarik.
Kenyamanan akhirnya bukan aksesori.
Ia menjadi bagian dari alasan seseorang mau berjalan.
Trotoar Lebar Saja Belum Cukup
Ada jebakan dalam membicarakan trotoar: menganggap semakin lebar otomatis semakin baik.
Belum tentu.
Trotoar yang luas tetapi terputus, dipenuhi hambatan, sulit diseberangi, atau tidak memiliki hubungan yang baik dengan fasilitas di sekitarnya tetap menyulitkan pejalan kaki.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa risiko pejalan kaki meningkat ketika desain jalan dan tata guna lahan tidak menyediakan trotoar atau akses pejalan kaki yang memadai, terutama di persimpangan. Pemisahan pejalan kaki dari kendaraan dan pengelolaan kecepatan kendaraan termasuk pendekatan yang dapat meningkatkan keselamatan.
Jadi, setidaknya ada beberapa hal yang harus berjalan bersama:
- lebar efektif yang memadai;
- permukaan yang nyaman dan tidak membahayakan;
- jalur yang tidak terputus;
- ruang yang bebas dari hambatan;
- akses penyeberangan yang aman;
- koneksi dengan halte, bangunan, fasilitas publik, dan tujuan perjalanan;
- perhatian terhadap pengguna dengan kebutuhan mobilitas berbeda.
Trotoar pada akhirnya adalah sebuah sistem, bukan sekadar bidang selebar beberapa meter.
Pelajaran dari Penataan Trotoar di Balikpapan
Konteks ini terasa dekat bagi warga Balikpapan.
Pemerintah Kota Balikpapan telah melakukan penataan sejumlah koridor pedestrian. Pada Jalan Ruhui Rahayu, misalnya, pembangunan drainase dan pedestrian menjadi bagian dari konsep kawasan perkantoran terintegrasi.
Di Jalan MT Haryono, penataan trotoar juga mendapat perhatian. Laporan RRI pada Oktober 2025 menyebut trotoar di kawasan tersebut menjadi lebih rapi dan lebar, dilengkapi elemen seperti kursi, pot, lampu jalan, dan guiding block. Namun, laporan yang sama mencatat masih ada persoalan parkir liar yang dapat mengganggu fungsi ruang jalan.
Persoalan seperti ini menunjukkan satu hal penting: trotoar yang dirancang bagus harus tetap dijaga agar ruang efektifnya tidak hilang setelah selesai dibangun.
Kalau jalur yang seharusnya digunakan untuk berjalan kemudian terhalang kendaraan, barang, atau aktivitas lain, ukuran fisiknya tidak lagi menggambarkan ruang yang benar-benar tersedia bagi pejalan kaki.
Pemkot Balikpapan sendiri pernah melakukan penertiban parkir liar di kawasan Jalan Ruhui Rahayu. Satpol PP Balikpapan menegaskan bahwa trotoar merupakan fasilitas untuk mobilitas pejalan kaki dan bahwa penggunaan ruang publik perlu ditertibkan agar masyarakat dapat bergerak dengan nyaman.
Coba Lihat Trotoar dari Sudut Pandang Orang yang Berjalan
Cara sederhana memahami kualitas trotoar adalah berhenti melihatnya dari sudut pandang pengendara.
Coba bayangkan seseorang berjalan kaki dari titik A ke titik B.
Apakah ia dapat berjalan lurus?
Apakah dua orang dapat berpapasan tanpa salah satunya turun ke badan jalan?
Apakah seseorang yang menggunakan kursi roda dapat melewati jalur tersebut tanpa terhalang?
Bagaimana jika ada orang berhenti sebentar untuk membuka ponsel?
Bagaimana jika seseorang membawa tas belanja?
Bagaimana jika seorang dewasa berjalan sambil menggandeng anak?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini lebih menggambarkan pengalaman nyata dibanding sekadar melihat apakah trotoarnya tampak bagus dalam foto.
Pedoman BTV sendiri menekankan bahwa pendekatan human-centered harus melihat manusia sebagai subjek, pengalaman manusia sebagai pintu masuk, sementara fakta tetap menjadi fondasi.
Ruang Berjalan Harus Benar-Benar Menjadi Ruang Berjalan
Ada perbedaan besar antara lebar trotoar dan ruang yang tersedia untuk berjalan.
Misalnya, sebuah trotoar memiliki lebar fisik yang cukup. Namun di tengahnya terdapat tiang. Di salah satu sisi ada pohon yang membuat orang harus mengambil jalur memutar. Kemudian ada kendaraan yang berhenti di atas trotoar.
Secara konstruksi, trotoarnya mungkin tetap "lebar".
Dalam pengalaman pejalan kaki, belum tentu.
Karena itu, ketika sebuah kawasan hendak memperbaiki pedestrian, perhatian seharusnya tidak berhenti pada pekerjaan fisik. Tata letak seluruh elemen di atas trotoar juga penting.
Pedoman teknis fasilitas pejalan kaki memang membahas dimensi, penempatan, serta kelengkapan fasilitas. Sementara pedoman Bina Marga 2023 tentang Indeks Kelayakan Berjalan (Walkability Index) memberikan kerangka untuk menilai kelayakan berjalan pada jalur pejalan kaki di kawasan perkotaan.
Jadi, kota yang ramah pejalan kaki tidak cukup dinilai dari seberapa banyak trotoar yang dibangun, tetapi juga dari seberapa baik trotoar tersebut dapat digunakan.
Kalau Trotoarnya Sempit, Apa yang Terjadi?
Dampaknya terasa dalam kebiasaan kecil.
Orang yang berjalan berdua mungkin terpaksa membentuk satu barisan. Pejalan kaki yang datang dari arah berlawanan harus bergantian. Seseorang bisa berhenti karena ada hambatan, lalu orang di belakangnya ikut menunggu.
Semakin ramai aktivitas, semakin cepat ruang kecil terasa penuh.
Di kawasan yang memiliki sekolah, pusat perbelanjaan, perkantoran, halte, fasilitas kesehatan, pasar, atau tujuan publik lainnya, kebutuhan ruang pejalan kaki juga cenderung lebih besar. Pedoman teknis 2023 memasukkan volume pejalan kaki dan kondisi kawasan sebagai bagian dari penentuan kebutuhan lebar efektif.
Itulah sebabnya tidak tepat menggunakan satu angka untuk menyatakan semua trotoar di sebuah kota sudah ideal.
Kebutuhannya mengikuti fungsi dan aktivitas kawasan.
Yang Perlu Diperhatikan Saat Menilai Trotoar
Kalau Ces ingin menilai apakah sebuah trotoar sudah nyaman digunakan, coba perhatikan beberapa hal berikut.
1. Apakah dua orang bisa berjalan berdampingan?
Ini tes paling sederhana.
Berjalanlah berdua secara normal. Kalau salah satu harus terus turun, berhenti, atau berjalan di belakang hanya untuk memberi ruang kepada orang lain, kemungkinan ruang efektifnya belum nyaman untuk kondisi tersebut.
2. Apakah dua arah bisa bergerak bersamaan?
Trotoar bukan hanya untuk orang yang berjalan dari arah yang sama.
Ada pejalan kaki datang dari depan. Ada yang berjalan lebih lambat. Ada yang berhenti sebentar. Ruang harus memungkinkan pergerakan tersebut tanpa konflik terus-menerus.
3. Apakah ada hambatan di jalur utama?
Perhatikan tiang, pohon, rambu, kotak utilitas, tempat sampah, kendaraan, atau benda lain.
Yang dihitung bukan sekadar luas lantai, tetapi ruang yang benar-benar dapat dipakai.
4. Apakah jalurnya tersambung?
Trotoar yang bagus di satu blok akan kehilangan manfaat jika beberapa puluh meter kemudian tiba-tiba terputus.
Pejalan kaki membutuhkan perjalanan yang berkesinambungan dari titik awal sampai tujuan.
5. Apakah aman saat menyeberang?
Trotoar yang lebar tidak banyak membantu jika seseorang harus menghadapi penyeberangan yang sulit atau berisiko tinggi.
WHO menekankan pentingnya fasilitas pejalan kaki dan desain persimpangan dalam mengurangi risiko bagi pejalan kaki.
Bukan Cuma Soal Nyaman, Tapi Juga Soal Pilihan Transportasi
Ada alasan mengapa pembahasan trotoar berkaitan dengan gaya hidup kota.
Orang akan lebih mungkin memilih berjalan jika perjalanan kaki terasa masuk akal. Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh tidak harus selalu ditempuh menggunakan kendaraan apabila jalurnya nyaman, aman, teduh, tersambung, dan mudah diikuti.
Di sinilah kualitas trotoar bertemu dengan persoalan yang lebih besar: bagaimana sebuah kota memberi pilihan kepada warganya.
Jeff Speck menyebut kota yang benar-benar walkable sebagai kota yang membuat berjalan menjadi pilihan yang layak dibanding berkendara. Dalam pandangannya, berjalan perlu sekaligus berguna, aman, nyaman, dan menarik.
Maka trotoar bukan sekadar proyek mempercantik tepi jalan.
Ia adalah bagian dari infrastruktur mobilitas.
Baca Juga: Tanah Lunak Bukan Alasan Pondasi Harus Dalam, Begini Cara Menilai Rumah Ringan 80 cm
Untungnya Bukan Hanya untuk Pejalan Kaki
Trotoar yang baik juga dapat membantu kehidupan kawasan.
Ketika orang dapat berjalan dengan nyaman, hubungan antara tempat tinggal, toko, fasilitas publik, halte, ruang terbuka, dan tempat kerja menjadi lebih mudah.
Jalan pun tidak hanya dipahami sebagai ruang kendaraan bergerak dari satu titik ke titik lain. Ia menjadi bagian dari ruang kota yang digunakan manusia.
Janette Sadik-Khan, mantan Commissioner of the New York City Department of Transportation dan pakar transportasi serta transformasi perkotaan, menekankan pentingnya menempatkan manusia dalam perencanaan jalan. Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan bahwa perubahan kecil pada jalan dapat mendorong interaksi dan rasa memiliki terhadap kota.
Perspektif tersebut relevan dengan hal yang sangat sederhana: orang perlu memiliki cukup ruang untuk berjalan tanpa merasa sedang "meminjam" ruang kota.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Pertama, hanya mengejar tampilan. Trotoar cantik belum tentu nyaman apabila ruang berjalannya terhalang.
Kedua, menghitung lebar fisik tanpa memperhatikan lebar efektif. Ruang yang ditempati fasilitas atau hambatan tidak bisa dianggap sebagai ruang berjalan bebas.
Ketiga, memperbaiki satu titik tanpa memikirkan koneksi. Pejalan kaki tidak berhenti di batas proyek.
Keempat, mengabaikan pengguna yang berbeda. Trotoar harus dipikirkan untuk lebih dari sekadar orang dewasa yang berjalan sendirian.
Kelima, membiarkan fungsi trotoar bercampur tanpa pengaturan. Ketika ruang pejalan kaki digunakan untuk aktivitas lain tanpa mempertimbangkan kebutuhan berjalan, kapasitas jalur bisa berkurang.
Poin Penting
- 185 sentimeter merupakan angka penting dalam pedoman teknis 2023 untuk lebar efektif lajur pejalan kaki dalam kondisi dua pengguna kursi roda berpapasan atau dua orang dewasa dengan barang berpapasan.
- Lebar trotoar perlu disesuaikan dengan volume pejalan kaki dan kondisi kawasan, bukan menggunakan satu ukuran untuk semua lokasi.
- Lebar fisik tidak sama dengan lebar efektif. Hambatan di jalur dapat mengurangi ruang yang benar-benar tersedia.
- Trotoar harus terhubung dengan penyeberangan, halte, bangunan, fasilitas publik, dan tujuan perjalanan.
- Penataan trotoar di Balikpapan menunjukkan bahwa pembangunan fisik perlu diikuti pengelolaan dan penertiban agar fungsi pedestrian tetap berjalan.
- Trotoar yang baik bukan hanya terlihat rapi, tetapi memungkinkan orang bergerak aman, nyaman, dan tanpa terus-menerus saling menghindar.
Insight Redaksi
Ukuran 1,85 meter memberi kita cara baru melihat trotoar.
Selama ini, trotoar sering dinilai dari tampilannya: paving baru, lampu baru, tanaman baru, atau desain yang lebih modern. Padahal pengalaman pejalan kaki dimulai dari pertanyaan yang jauh lebih sederhana: apakah saya punya cukup ruang untuk berjalan?
Kalau jawabannya tidak, fasilitas yang cantik belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan.
Dan kalau dua orang bisa berjalan berdampingan sambil berbicara tanpa harus berhenti setiap kali bertemu orang lain, sebenarnya kota sedang memberikan sesuatu yang sederhana tetapi penting: ruang untuk hidup sehari-hari.
Karena itu, ketika melihat penataan trotoar di Balikpapan, ukuran seharusnya tidak berhenti pada angka pembangunan. Yang lebih penting adalah berapa banyak ruang yang benar-benar tersisa bagi manusia.
Kalau Ces sedang berjalan di trotoar, coba perhatikan satu hal hari ini: apakah ruang itu membuat Ces merasa diterima, atau justru terus meminta Ces mengalah?
Kalau menurut Ces trotoar di sekitar tempat tinggal atau tempat kerja sudah nyaman, ceritakan artikel ini kepada teman atau keluarga yang juga sering berjalan kaki. Percakapan kecil tentang ruang publik bisa menjadi cara sederhana untuk ikut memperhatikan bagaimana kota kita digunakan.
Trotoar yang cukup lebar bukan sekadar membuat langkah lebih nyaman. Ia membuat dua orang bisa berjalan bersama, berbincang, dan tetap punya ruang ketika bertemu orang lain. Dari hal sesederhana itulah wajah kota yang manusiawi bisa dimulai.
Balikpapantv.id, teman update setia bukan sekadar info biasa.
FAQ
Berapa lebar trotoar yang ideal untuk dua orang?
Pedoman 07/P/BM/2023 menetapkan sekurang-kurangnya 185 sentimeter untuk lebar efektif lajur dalam kondisi dua pengguna kursi roda berpapasan atau dua orang dewasa dengan barang berpapasan. Kebutuhan aktual dapat lebih besar sesuai volume pejalan kaki dan kondisi kawasan.
Apakah trotoar 1,5 meter masih bisa digunakan?
Bisa digunakan, tetapi angka tersebut tidak otomatis berarti ideal untuk semua kondisi. Pedoman teknis terbaru perlu menjadi acuan, terutama ketika arus pejalan kaki tinggi atau terdapat kebutuhan ruang tambahan.
Mengapa lebar trotoar harus dihitung berdasarkan volume pejalan kaki?
Karena kawasan dengan aktivitas pejalan kaki tinggi membutuhkan ruang lebih besar agar arus dua arah tidak mudah mengalami konflik. Pedoman 2023 memasukkan volume pejalan kaki dalam perhitungan lebar efektif.
Apakah trotoar lebar otomatis aman?
Tidak. Keselamatan juga dipengaruhi koneksi jalur, hambatan, fasilitas penyeberangan, persimpangan, dan hubungan pejalan kaki dengan kendaraan.
Mengapa lebar efektif lebih penting daripada lebar fisik?
Karena lebar efektif menunjukkan ruang yang benar-benar tersedia untuk bergerak. Tiang, pohon, utilitas, rambu, kendaraan, atau elemen lainnya dapat mengurangi ruang tersebut.
Bagaimana dengan trotoar di Balikpapan?
Balikpapan telah melakukan penataan sejumlah koridor pedestrian, termasuk Jalan Ruhui Rahayu dan Jalan MT Haryono. Namun, pemeliharaan fungsi ruang pejalan kaki, termasuk penertiban penggunaan ruang oleh kendaraan, tetap menjadi bagian penting.