Durasi Baca: 8 Menit
Ikhtisar: Mall modern kini menghadirkan ruang kuliner, hiburan, wellness, komunitas dan area hijau untuk memperpanjang pengalaman pengunjung.
Balikpapan TV - Hai Ces! Mall modern kini dirancang bukan hanya sebagai tempat transaksi, tetapi sebagai destinasi yang menggabungkan belanja, kuliner, hiburan, komunitas, dan ruang publik.
Kalau dulu tujuan ke mall sederhana: mencari barang, membayar, lalu pulang. Sekarang, orang bisa datang untuk makan, bekerja, berolahraga, bertemu teman, menghadiri acara, atau sekadar mencari tempat nyaman untuk menghabiskan waktu.
Perubahan ini membuat desain mall ikut bergeser. Ruang tidak lagi hanya diatur berdasarkan deretan toko, tetapi berdasarkan pengalaman yang ingin dirasakan pengunjung.
JLL mencatat bahwa pengalaman kini menjadi bagian penting dalam pengembangan ruang perkotaan. Lebih dari dua pertiga responden dalam Global Consumer Experience Survey mengharapkan tempat yang mereka gunakan memberikan kesenangan, aktivitas beragam, dan nilai yang sepadan dengan waktu mereka.
Lantas, seperti apa konsep ruang mall modern yang membuat orang punya alasan untuk datang meski tidak sedang ingin berbelanja?
1. Ruang Retail Mulai Dibuat seperti Destinasi Pengalaman
Toko tidak harus lagi tampil seperti ruang jual-beli yang penuh rak dan produk.
Konsep retail modern mulai memberikan ruang untuk mencoba, berinteraksi, mengikuti aktivitas, hingga mengenal karakter sebuah brand. Karena itu, area display dapat dipadukan dengan lounge, workshop, demo produk, atau ruang komunitas.
Pengunjung akhirnya tidak hanya melihat barang dari jauh. Mereka memiliki alasan untuk masuk, mencoba, dan menghabiskan waktu lebih lama.
JLL juga melihat pergeseran retail menuju pengalaman yang lebih personal, relevan, dan terhubung dengan kebutuhan konsumen.
Dalam desain ruang, konsep ini bisa diterapkan melalui:
-
area display yang mudah diakses;
-
ruang demo atau trial;
-
pop-up store yang fleksibel;
-
tempat duduk di sekitar area retail;
-
pencahayaan yang menonjolkan produk;
-
ruang untuk kolaborasi brand dan komunitas.
Jadi, toko tidak lagi sekadar tempat mengambil barang dari rak.
2. Food Hall Menjadi Ruang Berkumpul
Salah satu perubahan paling mudah terlihat adalah semakin pentingnya area kuliner.
Food court konvensional cenderung berfokus pada kapasitas meja dan kemudahan pergantian pengunjung. Sementara konsep food hall mencoba menghadirkan suasana yang lebih seperti destinasi kuliner.
Area makan dapat dibuat dengan kombinasi meja komunal, tempat duduk santai, tenant dengan konsep berbeda, serta ruang yang memungkinkan pengunjung menikmati makanan tanpa merasa terburu-buru.
Tren ini sejalan dengan perkembangan retail experience. JLL mencatat bahwa kategori dining, entertainment, serta fitness dan wellness menjadi bagian penting dari ekspansi konsep berbasis pengalaman.
Bagi pengunjung, dampaknya sederhana: datang ke mall tidak harus dimulai dari toko.
Bisa saja justru dimulai dari pertanyaan, “Mau makan di mana?”
3. Entertainment Hub Mengisi Ruang yang Dulu Hanya untuk Belanja
Mall modern juga semakin membutuhkan aktivitas yang membuat orang datang dengan tujuan khusus.
Bentuknya bisa berupa bioskop, arena olahraga, permainan keluarga, immersive experience, ruang seni, hingga aktivitas berbasis komunitas.
Perkembangan location-based entertainment bahkan membuat ruang retail yang sebelumnya kurang produktif dapat dialihfungsikan menjadi destinasi hiburan. JLL mencatat bahwa sejumlah konsep hiburan menggunakan kembali ruang besar seperti bekas department store atau bioskop untuk menciptakan pengalaman baru.
Konsep ini penting karena hiburan memiliki kekuatan untuk membuat mall menjadi tujuan, bukan sekadar tempat yang dilewati.
Ruang yang dirancang untuk aktivitas juga memberi alasan berbeda bagi pengunjung untuk kembali pada waktu lain.
4. Wellness Space Membuat Mall Terasa Lebih Seimbang
Mall modern tidak harus selalu identik dengan keramaian.
Area wellness dapat menghadirkan gym, studio yoga, fasilitas kebugaran, klinik tertentu, salon, ruang relaksasi, atau area untuk aktivitas yang mendukung gaya hidup sehat.
Konsep ini menunjukkan bahwa ruang komersial mulai mengikuti perubahan kebutuhan manusia. Pengunjung bisa menyelesaikan beberapa aktivitas dalam satu perjalanan tanpa harus berpindah terlalu jauh.
JLL menyebut pengalaman yang mendukung wellness semakin menjadi bagian dari ekspektasi konsumen terhadap ruang tempat mereka tinggal, bekerja, dan menghabiskan waktu.
Secara desain, area wellness sebaiknya tidak ditempatkan sebagai ruang tambahan yang terasa terpisah. Sirkulasi, pencahayaan, akustik, ventilasi, dan akses menuju fasilitas perlu dipikirkan sejak awal.
5. Ruang Hijau dan Semi-Outdoor Membawa Suasana Lebih Santai
Mall yang sepenuhnya tertutup dapat terasa monoton jika tidak memiliki variasi ruang.
Karena itu, area hijau, courtyard, rooftop, teras, atau ruang semi-outdoor menjadi salah satu elemen yang menarik untuk dikembangkan.
Ruang seperti ini dapat digunakan untuk duduk, makan, acara komunitas, pertunjukan kecil, atau sekadar beristirahat setelah berjalan cukup lama.
Dalam konteks kota tropis seperti Balikpapan, desain ruang semi-outdoor perlu memperhatikan panas matahari, curah hujan, ventilasi silang, drainase, material lantai, serta perlindungan dari hujan.
Artinya, tanaman saja tidak cukup.
Ruang hijau yang baik harus tetap nyaman digunakan manusia.
6. Community Space Membuat Mall Punya Identitas Lokal
Mall juga dapat berfungsi sebagai ruang pertemuan komunitas.
Area kosong dapat digunakan untuk pameran karya lokal, bazar UMKM, workshop, pertunjukan seni, kelas kreatif, kegiatan keluarga, hingga acara komunitas.
Konsep ini membuat mall terasa lebih dekat dengan kota tempatnya berada.
Gensler menyebut perkembangan shopping center saat ini bergerak menuju fungsi sebagai cultural stage, wellness destination, entertainment hub, dan community anchor.
Contohnya, sebuah mall di Kalimantan Timur dapat memasukkan unsur visual, kuliner, kerajinan, atau program komunitas lokal tanpa harus mengubah seluruh bangunan menjadi tema tradisional.
Kuncinya adalah membuat identitas lokal hadir secara natural.
7. Mixed-Use Space Membuat Mall Berfungsi Lebih dari Satu Hari
Konsep terakhir adalah menggabungkan mall dengan fungsi lain seperti perkantoran, hotel, hunian, ruang kerja, fasilitas olahraga, atau area publik.
Tujuannya bukan sekadar membuat bangunan semakin besar.
Yang lebih penting adalah menciptakan ekosistem sehingga berbagai kebutuhan dapat saling mendukung.
JLL menyebut mixed-use yang berhasil bukan hanya kumpulan fungsi yang ditempatkan berdekatan. Setiap fungsi perlu dikurasi agar saling terhubung dan menciptakan pengalaman yang terasa menyatu.
Misalnya, seseorang dapat bekerja pada pagi hari, makan siang di area kuliner, berolahraga setelah bekerja, kemudian bertemu teman di ruang publik sebelum pulang.
Mall akhirnya menjadi bagian dari rutinitas, bukan tujuan sesekali.
Baca Juga: Tak Sekadar Minimalis, 6 Inspirasi Arsitektur Rumah Unik yang Tampil Seperti Karya Seni
Kenapa Konsep Ruang Ini Semakin Penting?
Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu alasannya.
Belanja online membuat konsumen tidak selalu membutuhkan toko fisik hanya untuk mencari dan membeli produk. Karena itu, ruang fisik perlu menawarkan sesuatu yang sulit diberikan oleh layar: interaksi, suasana, kenyamanan, hiburan, dan kesempatan bertemu orang lain.
Riset JLL menunjukkan 73 persen responden lebih memilih destinasi multifungsi, sementara 60 persen mengatakan mereka menyukai tempat yang familiar untuk dikunjungi kembali.
Artinya, mall modern tidak harus selalu menciptakan sesuatu yang spektakuler.
Yang lebih penting adalah membuat pengalaman yang nyaman, mudah digunakan, konsisten, dan punya alasan untuk dikunjungi kembali.
Ulasan Teknis: Pengalaman Harus Dimulai dari Sirkulasi
Ruth Hynes, Global PDS Research Lead JLL, menjelaskan bahwa experience design yang dulu dianggap sebagai nilai tambah kini telah menjadi kebutuhan yang lebih mendasar dalam pengembangan ruang.
Dari sisi desain, prinsip tersebut berarti pengalaman pengunjung perlu dipikirkan sejak mereka tiba.
Mulai dari akses kendaraan, pintu masuk, wayfinding, sirkulasi antar lantai, posisi eskalator, toilet, tempat duduk, area makan, ruang hijau, hingga pintu keluar.
Jika pengunjung kesulitan menemukan tujuan, desain yang mahal sekalipun tidak otomatis terasa nyaman.
Karena itu, konsep mall modern sebaiknya memperhatikan alur manusia, bukan hanya luas bangunan.
Ringkasan Konsep Ruang Mall Modern
| Konsep | Fungsi Utama | Pengalaman yang Diharapkan |
|---|---|---|
| Experiential Retail | Belanja dan interaksi | Mencoba, melihat, beraktivitas |
| Food Hall | Kuliner dan sosial | Makan dan berkumpul |
| Entertainment Hub | Hiburan | Bermain dan menikmati aktivitas |
| Wellness Space | Kesehatan dan kebugaran | Berolahraga dan relaksasi |
| Green/Semi-Outdoor | Ruang istirahat | Bersantai dan menikmati suasana |
| Community Space | Aktivitas publik | Berkarya dan berinteraksi |
| Mixed-Use Space | Beragam kebutuhan | Bekerja, tinggal, makan, dan rekreasi |
Bagaimana dengan Biaya Membuatnya?
Untuk mall skala besar, biaya tidak tepat jika disamaratakan dalam satu angka karena kebutuhan proyek sangat bergantung pada luas area, kondisi struktur, spesifikasi material, sistem mekanikal-elektrikal, HVAC, plumbing, pencahayaan, landscape, teknologi, serta tingkat renovasi.
Karena itu, pemilik atau pengembang sebaiknya memisahkan anggaran berdasarkan kelompok pekerjaan:
| Komponen | Yang Perlu Dihitung |
|---|---|
| Interior | Finishing, ceiling, flooring, furniture |
| MEP | Listrik, HVAC, plumbing, sistem pendukung |
| Teknologi | Digital signage, Wi-Fi, interactive system |
| Landscape | Tanaman, drainase, irigasi, area duduk |
| Entertainment | Peralatan dan sistem khusus |
| Community Space | Furnitur fleksibel dan fasilitas acara |
| Maintenance | Perawatan material, tanaman, teknologi |
Pendekatan tersebut lebih aman daripada menggunakan satu angka perkiraan yang belum mempertimbangkan ukuran dan kondisi bangunan.
Baca Juga: Jangan Asal Pilih! 6 Inspirasi Desain Tangga Rumah Minimalis yang Cocok untuk Hunian Masa Kini
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari
Konsep mall modern bukan berarti setiap sudut harus penuh layar LED, dekorasi unik, atau instalasi yang sengaja dibuat viral.
Riset JLL justru menunjukkan bahwa keamanan dan kenyamanan tetap menjadi faktor pengalaman yang sangat penting, sementara pengalaman yang terlalu kompleks juga dapat mengurangi kepuasan pengguna.
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari:
-
terlalu banyak dekorasi tetapi minim tempat duduk;
-
membuat ruang hijau tanpa mempertimbangkan perawatan;
-
memasang teknologi tanpa fungsi yang jelas;
-
mengabaikan aksesibilitas;
-
membuat sirkulasi terlalu rumit;
-
mencampurkan terlalu banyak aktivitas tanpa zonasi;
-
mengejar tampilan Instagramable tetapi melupakan kenyamanan;
-
menggunakan identitas lokal hanya sebagai dekorasi tempelan.
Poin Penting
Mall modern sedang bergerak dari konsep shopping destination menuju experience destination.
Toko tetap penting, tetapi keberadaannya mulai dilengkapi dengan kuliner, hiburan, wellness, ruang hijau, komunitas, dan fungsi mixed-use.
Desain yang baik bukan yang paling ramai atau paling futuristis. Desain yang baik adalah yang membuat orang tahu harus pergi ke mana, merasa nyaman ketika berada di sana, dan memiliki alasan untuk kembali.
Insight Redaksi
Mall masa kini semakin menyerupai bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang tidak hanya datang untuk membeli sesuatu, tetapi juga mencari tempat bertemu, makan, beraktivitas, beristirahat, dan menikmati pengalaman bersama. Karena itu, masa depan mall bukan sekadar tentang semakin banyak toko, melainkan tentang seberapa baik sebuah ruang memahami kebutuhan manusia.
Kalau sebuah mall bisa membuat pengunjung betah tanpa harus selalu berbelanja, berarti ruang tersebut sudah berhasil menjadi bagian dari gaya hidup.
Bagikan artikel ini jika menurut Ces mall masa kini memang sudah lebih dari sekadar tempat belanja, dan ikuti terus informasi terbaru dari Balikpapan TV sebagai teman update setia.
FAQ
1. Mengapa mall modern tidak lagi hanya fokus pada toko?
Karena kebutuhan pengunjung berubah. Selain berbelanja, mereka membutuhkan kuliner, hiburan, interaksi sosial, wellness, ruang publik, dan pengalaman yang tidak mudah digantikan oleh belanja online.
2. Apa konsep ruang yang paling penting?
Tidak ada satu konsep yang berlaku untuk semua mall. Sirkulasi, kenyamanan, keamanan, aksesibilitas, dan kesesuaian dengan karakter pengunjung justru menjadi fondasi sebelum menentukan fungsi tambahan.
3. Apakah ruang hijau wajib ada di mall?
Tidak selalu. Namun ruang hijau atau semi-outdoor dapat membantu memberikan variasi suasana, area istirahat, dan ruang aktivitas apabila dirancang sesuai kondisi iklim serta kemampuan perawatan.
4. Apakah teknologi harus banyak digunakan?
Tidak. Teknologi sebaiknya digunakan ketika benar-benar membantu navigasi, informasi, interaksi, kenyamanan, atau pengalaman pengunjung.
5. Apakah mall bisa menjadi ruang komunitas?
Bisa. Area yang fleksibel dapat digunakan untuk pameran, workshop, bazar, pertunjukan, kegiatan keluarga, dan berbagai program komunitas sesuai karakter kawasan.
Editor : Arya Kusuma