Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Kota Indonesia Makin Panas, Ternyata Arsitektur Modern Jadi Salah Satu Penyebabnya

istikhomah • Sabtu, 18 Juli 2026 | 21:36 WIB
Deretan gedung beton dan kaca di kota Indonesia memerangkap panas dan memperkuat fenomena urban heat island. (BTV/AI)
Deretan gedung beton dan kaca di kota Indonesia memerangkap panas dan memperkuat fenomena urban heat island. (BTV/AI)
Durasi Baca: 8 menit

Topik: Hubungan desain kota, material bangunan, dan peningkatan suhu perkotaan di Indonesia.

Ikhtisar: Artikel ini membahas penyebab meningkatnya suhu kota, pengaruh arsitektur modern, berkurangnya ruang hijau, serta solusi desain yang lebih adaptif terhadap iklim tropis.

 

Balikpapantv-Hai Ces! Pernah merasa kota terasa jauh lebih panas dibanding beberapa tahun lalu? Jalanan semakin menyengat, malam hari tidak lagi terasa sejuk, dan penggunaan pendingin ruangan terus meningkat hampir di setiap rumah maupun gedung perkantoran.

Fenomena ini bukan sekadar akibat perubahan iklim global. Cara kota-kota Indonesia dibangun ternyata ikut memainkan peran besar dalam menciptakan suhu yang semakin tinggi. Dalam dunia perencanaan kota, kondisi ini dikenal sebagai Urban Heat Island atau pulau panas perkotaan.

Ketika Kota Menjadi Penyimpan Panas Raksasa

Urban Heat Island terjadi ketika wilayah perkotaan memiliki suhu yang lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya. Selisihnya bahkan dapat mencapai beberapa derajat Celsius, terutama pada malam hari ketika kawasan lain mulai mendingin sementara kota masih menyimpan panas dari siang hari.

Penyebab utamanya adalah perubahan permukaan tanah alami menjadi beton, aspal, baja, dan kaca. Material tersebut menyerap panas matahari sepanjang hari lalu melepaskannya secara perlahan setelah matahari terbenam.

Akibatnya, udara malam yang seharusnya menjadi waktu pendinginan alami justru tetap terasa gerah.

Fenomena ini sudah terlihat di berbagai kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Medan, hingga Makassar yang mengalami peningkatan suhu permukaan akibat pertumbuhan kawasan terbangun yang sangat cepat.

Baca Juga: Cara Hemat Bangun Rumah Pintar Melalui Integrasi Sistem Sejak Fase Cetak Biru Arsitektur

Fasad gedung kaca modern memantulkan sekaligus menyerap panas matahari di kota beriklim tropis seperti Indonesia. (BTV/AI)
Fasad gedung kaca modern memantulkan sekaligus menyerap panas matahari di kota beriklim tropis seperti Indonesia. (BTV/AI)

Mengapa Beton dan Kaca Menjadi Masalah?

Beton memiliki kapasitas menyimpan panas yang sangat tinggi. Permukaan trotoar, jalan raya, parkiran, hingga dinding bangunan menyerap energi matahari sejak pagi dan berubah menjadi sumber panas tambahan bagi lingkungan sekitar.

Di sisi lain, tren penggunaan fasad kaca penuh pada gedung modern juga menimbulkan persoalan baru.

Kaca memang memberikan kesan mewah dan modern, tetapi pada iklim tropis seperti Indonesia, permukaan kaca yang luas dapat meningkatkan panas di dalam bangunan sehingga kebutuhan pendinginan menjadi jauh lebih besar.

Profesor arsitektur tropis asal Malaysia, Ken Yeang, selama bertahun-tahun menekankan bahwa desain bangunan tropis seharusnya mengurangi paparan panas matahari secara langsung, bukan justru memperbesarnya.

Ironisnya, banyak kota di Asia Tenggara justru mengadopsi desain gedung yang lebih cocok diterapkan di negara beriklim dingin.

Baca Juga: Arsitektur Bambu Modern Makin Diminati, Ini Alasan Hunian Alami Jadi Pilihan Masa Kini

Perbandingan kawasan kota yang dipenuhi pepohonan dengan area beton menunjukkan perbedaan suhu yang signifikan. (BTV/AI)
Perbandingan kawasan kota yang dipenuhi pepohonan dengan area beton menunjukkan perbedaan suhu yang signifikan. (BTV/AI)

Hilangnya Ruang Hijau Membuat Kota Kehilangan Pendingin Alami

Pohon sebenarnya merupakan teknologi pendingin paling murah yang pernah dimiliki manusia.

Satu pohon dewasa mampu menurunkan suhu lingkungan di sekitarnya melalui proses evapotranspirasi, yaitu pelepasan uap air dari daun ke atmosfer yang membantu mendinginkan udara.

Ketika taman kota berubah menjadi area parkir, lahan kosong berubah menjadi pusat perbelanjaan, dan halaman rumah ditutup penuh oleh paving block, kemampuan kota untuk melepaskan panas ikut berkurang drastis.

Penelitian berbagai kota tropis menunjukkan kawasan dengan tutupan pohon yang baik dapat memiliki suhu beberapa derajat lebih rendah dibanding area yang didominasi beton dan aspal.

Tidak heran jika berjalan di bawah pepohonan besar sering terasa jauh lebih nyaman dibanding berdiri di area parkir terbuka selama beberapa menit saja.

Arsitektur Tropis Indonesia Sebenarnya Sudah Menemukan Solusinya Sejak Lama

Menariknya, nenek moyang di Nusantara sebenarnya telah mengembangkan desain bangunan yang sangat adaptif terhadap iklim panas dan lembap.

Rumah panggung tradisional memiliki sirkulasi udara alami dari bawah bangunan.

Atap dibuat tinggi agar udara panas dapat naik dan keluar secara alami.

Jendela besar memungkinkan angin melintas tanpa hambatan, sementara teras dan selasar berfungsi sebagai peneduh tambahan dari paparan matahari langsung.

Sayangnya, banyak prinsip tersebut mulai ditinggalkan demi mengejar estetika modern yang belum tentu sesuai dengan kondisi iklim Indonesia.

Padahal arsitektur tropis bukan berarti kuno. Prinsip-prinsipnya justru semakin relevan ketika suhu perkotaan terus meningkat.

Apakah AC Menjadi Solusi?

Pendingin ruangan memang memberikan kenyamanan instan, tetapi penggunaan AC secara masif juga menghasilkan panas buangan ke lingkungan sekitar.

Semakin banyak gedung menggunakan AC, semakin besar panas yang dilepaskan ke udara luar.

Situasi ini menciptakan lingkaran yang cukup unik: kota menjadi lebih panas sehingga penggunaan AC meningkat, lalu penggunaan AC justru ikut meningkatkan panas kota.

Karena itu banyak kota dunia mulai mengembangkan strategi pendinginan pasif melalui desain bangunan dan tata kota dibanding hanya mengandalkan pendinginan mekanis.

Seperti Apa Kota yang Lebih Sejuk di Masa Depan?

Ada beberapa pendekatan arsitektur yang mulai diterapkan untuk mengurangi efek pulau panas perkotaan:

Konsep ini tidak hanya menurunkan suhu lingkungan tetapi juga membantu mengurangi konsumsi listrik dari pendingin ruangan.

Masa Depan Kota Indonesia Ditentukan oleh Cara Kita Membangunnya

Perubahan iklim memang menjadi tantangan global, tetapi sebagian panas yang dirasakan warga kota berasal dari keputusan desain yang dibuat di tingkat lokal.

Pilihan material, jumlah pohon yang dipertahankan, lebar trotoar, hingga bentuk bangunan ternyata menentukan seperti apa suhu kota dua puluh tahun mendatang.

Arsitektur bukan hanya soal estetika atau bentuk bangunan yang menarik difoto.

Arsitektur adalah keputusan tentang bagaimana manusia hidup bersama iklim di sekitarnya.

Dan untuk negara tropis seperti Indonesia, mungkin sudah waktunya kembali belajar dari lingkungan tempat kita tinggal sejak awal.

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan Urban Heat Island atau pulau panas perkotaan?
Urban Heat Island adalah kondisi ketika suhu di kawasan perkotaan lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya akibat dominasi beton, aspal, dan bangunan yang menyerap serta menyimpan panas.

2. Mengapa gedung kaca membuat kota terasa semakin panas?
Permukaan kaca yang luas dapat meningkatkan penyerapan dan pantulan panas matahari sehingga suhu di dalam dan sekitar bangunan menjadi lebih tinggi, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia.

3. Apakah berkurangnya pohon benar-benar memengaruhi suhu kota?
Ya. Pohon membantu menurunkan suhu melalui bayangan dan proses evapotranspirasi yang melepaskan uap air ke udara sehingga lingkungan menjadi lebih sejuk.

4. Apakah penggunaan AC dapat memperburuk suhu kota?
Secara tidak langsung, iya. AC membuang panas ke lingkungan luar sehingga penggunaan dalam jumlah besar dapat menambah panas di kawasan perkotaan.

5. Apa solusi arsitektur untuk mengurangi panas di kota Indonesia?
Solusinya meliputi penambahan ruang hijau, penggunaan atap reflektif, taman atap (green roof), ventilasi alami, serta penerapan prinsip arsitektur tropis yang sesuai dengan iklim Indonesia.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Pemanasan Perkotaan arsitektur perubahan iklim smart city Arsitektur Tropis