Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Bagaimana Desain Jalan dan Gedung Menentukan Risiko Banjir Kota?

istikhomah • Rabu, 15 Juli 2026 | 23:13 WIB
Jalan perkotaan dengan kombinasi taman resapan dan trotoar berpori untuk mengurangi banjir. (BTV/AI)
Jalan perkotaan dengan kombinasi taman resapan dan trotoar berpori untuk mengurangi banjir. (BTV/AI)
Durasi Baca: 9 menit

Topik: Hubungan antara rancangan kawasan terbangun dan kemampuan kota mengelola limpasan hujan ekstrem.

Ikhtisar: Artikel ini membahas bagaimana bentuk jalan, material bangunan, dan ruang hijau memengaruhi banjir serta solusi desain yang mulai diterapkan berbagai kota dunia.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Risiko banjir perkotaan pada 2025 hingga 2026 semakin dipengaruhi oleh cara kota membangun jalan, gedung, area parkir, dan ruang terbuka. Ketika permukaan tanah tertutup beton dan aspal, air hujan kehilangan tempat meresap sehingga saluran drainase cepat penuh dan genangan muncul dalam waktu singkat.

Hujan deras memang faktor penting, tetapi desain kota sering menjadi pembeda antara air yang mengalir lancar atau berubah menjadi banjir. Menariknya, banyak solusi ternyata berada di bawah kaki manusia setiap hari. Simak terus, ada banyak ide kota masa depan yang layak dicoba di Indonesia, Ces!

Baca Juga: Cara Hemat Bangun Rumah Pintar Melalui Integrasi Sistem Sejak Fase Cetak Biru Arsitektur

Perbandingan kawasan beton penuh dengan lingkungan yang memiliki ruang hijau dan area infiltrasi. (BTV/AI)
Perbandingan kawasan beton penuh dengan lingkungan yang memiliki ruang hijau dan area infiltrasi. (BTV/AI)

Mengapa permukaan kota justru bisa mempercepat datangnya banjir?

Sebuah kota modern bekerja seperti spons atau seperti talenan, tergantung cara pembangunannya. Ketika tanah digantikan beton secara masif, kemampuan menyerap air turun drastis sehingga seluruh air hujan bergerak menuju saluran dalam waktu bersamaan.

Berikut beberapa elemen desain yang paling berpengaruh terhadap risiko banjir perkotaan.

1. Aspal kedap air pada jalan utama

Aspal konvensional dirancang agar kuat menahan kendaraan, tetapi hampir tidak memberi ruang bagi air untuk meresap ke tanah.

Ketika hujan intensitas tinggi turun selama 30 menit saja, jutaan liter air dapat bergerak bersamaan menuju drainase kota. Jika kapasitas saluran tidak mengikuti pertumbuhan kawasan, genangan menjadi sulit dihindari.

2. Area parkir yang terlalu luas

Pusat perbelanjaan modern sering memiliki area parkir yang luasnya bahkan melebihi bangunan utama.

Permukaan parkir biasanya menggunakan beton penuh tanpa ruang infiltrasi. Saat hujan deras, area tersebut berubah menjadi pengumpul limpasan air terbesar di sekitarnya.

3. Gedung tinggi tanpa ruang resapan

Banyak kawasan bisnis mengganti hampir seluruh lahan dengan bangunan dan pelataran keras.

Akibatnya, volume air yang dahulu diserap tanah langsung berpindah ke saluran kota. Fenomena ini sering disebut urban runoff atau limpasan permukaan perkotaan.

4. Trotoar yang seluruhnya diplester beton

Trotoar memang penting untuk pejalan kaki, tetapi desain sepenuhnya tertutup beton membuat air kehilangan jalur masuk menuju tanah.

Beberapa kota mulai menggunakan paving berpori yang mampu menyalurkan air ke lapisan tanah di bawahnya tanpa mengurangi kenyamanan pejalan kaki.

5. Hilangnya ruang hijau lingkungan

Pepohonan, taman kecil, dan tanah terbuka sebenarnya berfungsi sebagai penyerap air alami.

Ketika ruang hijau berkurang, air hujan bergerak lebih cepat menuju jalan dan drainase sehingga puncak banjir datang dalam waktu lebih singkat.

6. Sungai yang dipersempit pembangunan

Sebagian kota membangun terlalu dekat dengan sempadan sungai demi mengejar kebutuhan ruang.

Padahal sungai membutuhkan ruang untuk menampung limpasan saat hujan ekstrem. Ketika ruang itu hilang, air mencari jalannya sendiri menuju permukiman.

Apakah bentuk jalan juga menentukan tinggi rendahnya genangan?

Jawabannya sangat besar.

Banyak jalan perkotaan dibangun dengan pola menyerupai saluran panjang yang mengarahkan seluruh air menuju satu titik rendah. Ketika titik tersebut gagal menampung debit, genangan akan menyebar ke seluruh kawasan di sekitarnya.

Jalan yang terlalu datar juga memperlambat aliran air menuju drainase utama. Sebaliknya, kemiringan berlebihan dapat mempercepat limpasan dan menambah tekanan pada saluran di hilir.

Profesor Dirk Hebel dari Karlsruhe Institute of Technology menjelaskan bahwa kota masa depan perlu memperlakukan air hujan sebagai sumber daya, bukan sekadar limbah yang harus dibuang secepat mungkin.

Pendekatan tersebut mulai diterapkan melalui bioswale atau saluran vegetasi di sisi jalan yang mampu memperlambat sekaligus menyaring aliran air sebelum masuk ke drainase kota.

Di beberapa kota Eropa, median jalan kini berfungsi ganda sebagai ruang penampung sementara ketika hujan ekstrem datang. Ketika cuaca normal, area tersebut tetap terlihat seperti taman biasa.

Konsep ini membuat kota memiliki waktu tambahan sebelum sistem drainase mencapai kapasitas maksimum.

Baca Juga: Arsitektur Bambu Modern Makin Diminati, Ini Alasan Hunian Alami Jadi Pilihan Masa Kini

Gedung modern dengan atap hijau dan sistem penampungan air hujan di kawasan perkotaan. (BTV/AI)
Gedung modern dengan atap hijau dan sistem penampungan air hujan di kawasan perkotaan. (BTV/AI)

Bagaimana gedung modern bisa berubah dari penyebab menjadi solusi banjir?

Arsitektur perkotaan sedang bergerak menuju konsep bangunan penahan air.

Atap hijau atau green roof mulai digunakan untuk menahan sebagian curah hujan sebelum dialirkan perlahan ke sistem drainase. Selain mengurangi limpasan, teknologi ini juga membantu menurunkan suhu bangunan.

Dinding hijau vertikal memberikan manfaat serupa meski skalanya lebih kecil. Air hujan dapat tertahan sementara sebelum menguap atau diserap tanaman.

Konsep penampungan air hujan di gedung bertingkat juga mulai berkembang. Air yang ditampung dapat digunakan untuk menyiram taman, membersihkan area umum, hingga kebutuhan sanitasi tertentu.

Menurut laporan terbaru WHO mengenai kesehatan perkotaan, desain kota yang buruk meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap banjir, panas ekstrem, hingga penyakit berbasis lingkungan.

Arsitek lanskap sekaligus profesor urban design, Kongjian Yu, memperkenalkan konsep pembangunan yang bekerja mengikuti siklus air alami dibanding melawannya melalui beton dan saluran tertutup.

Pendekatan tersebut kini menjadi salah satu referensi utama dalam pengembangan kota tahan iklim.

Apa pelajaran dari kota-kota yang mulai berhasil mengurangi banjir?

China menjadi salah satu negara yang paling aktif mengembangkan konsep "Sponge City" atau kota spons.

Alih-alih memperbesar seluruh saluran drainase, kota-kota tersebut memperbanyak taman resapan, trotoar berpori, kolam retensi, lahan basah, serta atap hijau untuk menyerap air langsung di lokasi hujan turun.

Pendekatan serupa juga diterapkan di Copenhagen melalui jaringan taman penampung hujan, jalur hijau, hingga ruang publik multifungsi yang dapat berubah menjadi area penampungan air sementara ketika terjadi hujan ekstrem.

Pelajaran terbesarnya sederhana.

Kota yang hanya memperbesar drainase biasanya akan kembali menghadapi masalah ketika curah hujan meningkat. Kota yang menyebarkan penyerapan air ke seluruh kawasan cenderung memiliki ketahanan yang lebih baik.

Fenomena tersebut mulai menjadi perhatian banyak kota pesisir Asia yang menghadapi kombinasi hujan ekstrem, urbanisasi cepat, dan perubahan iklim global.

Apa yang bisa diterapkan pada kota-kota Indonesia mulai sekarang?

Indonesia sebenarnya memiliki banyak contoh lokal yang relevan.

Rumah panggung tradisional memberi ruang bagi aliran air ketika hujan tinggi datang. Kampung dengan banyak pohon biasanya memiliki suhu lebih rendah sekaligus genangan yang lebih sedikit.

Pendekatan modern dapat menggabungkan teknologi baru dengan prinsip lama tersebut.

Perumahan baru dapat diwajibkan menyediakan persentase tertentu lahan resapan. Area parkir dapat menggunakan paving berpori. Trotoar dapat dikombinasikan dengan jalur vegetasi penahan air.

Biaya tambahan pembangunan memang muncul di awal, tetapi kerugian akibat banjir tahunan jauh lebih besar dibanding investasi pencegahan.

Rahmat Hidayat, 38 tahun, warga kawasan padat di Balikpapan, menilai genangan yang dahulu sering muncul kini berkurang setelah beberapa area terbuka diperbanyak dan saluran diperlebar.

Pengalaman lapangan seperti ini menunjukkan bahwa solusi banjir tidak selalu harus berupa proyek raksasa bernilai triliunan rupiah.

Kadang jawabannya ada pada detail kecil yang selama ini terlewat dalam desain jalan dan bangunan.

Kota masa depan bukan kota yang mampu membuang air paling cepat, melainkan kota yang mampu hidup berdampingan dengan air secara cerdas.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Kota-kota di Indonesia sering sibuk memperbesar saluran, tetapi kadang lupa menghitung berapa banyak permukaan tanah yang hilang setiap tahun. Di Balikpapan sendiri, perubahan kecil pada ruang terbuka sering memberi dampak yang terasa langsung ketika musim hujan datang. Ada satu pesan penting di sini: banjir bukan urusan langit semata, tetapi juga keputusan desain di daratan. Jangan sampai kota dibangun cepat, tetapi kemampuan menyerap air justru tertinggal jauh. Pikirkan dari sekarang, Ces.

Bagikan jua artikel ini ke kawalan ikam supaya makin banyak yang memahami bahwa desain kota ternyata ikut menentukan nasib sebuah hujan. Ikuti terus informasi inspiratif dan ide bermanfaat lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Mengapa jalan beraspal meningkatkan risiko banjir?
Karena aspal hampir tidak menyerap air sehingga seluruh hujan mengalir menuju drainase secara bersamaan.

2. Apa itu konsep kota spons?
Pendekatan desain kota yang menggunakan permukaan berpori, taman, dan ruang hijau untuk menyerap air hujan.

3. Apakah gedung tinggi selalu memperburuk banjir?
Tidak. Gedung dengan atap hijau dan penampungan air justru dapat membantu mengurangi limpasan.

4. Mengapa ruang hijau penting dalam pengendalian banjir?
Karena tanah dan vegetasi mampu menyerap serta memperlambat aliran air hujan.

5. Apakah solusi banjir selalu membutuhkan proyek besar?
Tidak selalu. Perubahan desain trotoar, parkir, dan taman lingkungan juga memberi dampak signifikan.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Banjir Perkotaan Kota Spons arsitektur infrastruktur drainase kota