Ikhtisar: Sarjana akuntansi Wahyudin memilih kembali ke desa, menghidupkan lahan pertanian, membuka peluang ekonomi baru, sekaligus mengalihkan warga dari tambang ilegal menuju pertanian produktif yang lebih aman dan berkelanjutan.
Balikpapan TV - Hai Cess! Gelar sarjana akuntansi biasanya identik dengan kantor tinggi di kota besar. Tapi Wahyudin justru memilih arah berbeda. Ia pulang ke Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, menggenggam cangkul demi masa depan kampungnya.
Penasaran bagaimana langkah ini mengubah arah hidup warga dan membuka jalan ekonomi baru? Simak sampai tuntas Cess!
Baca Juga: Peran BRI Dorong Kredit Program Perumahan untuk Akses Rumah Terjangkau Nasional
Mengapa Sarjana Akuntansi Memilih Pulang ke Desa?
Keputusan Wahyudin, atau akrab disapa Kang Wahyu, berangkat dari kegelisahan panjang. Ia melihat desanya terus berada di bawah bayang-bayang aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Kondisi ekonomi yang menekan dan rusaknya irigasi pascabencana 2020 membuat sebagian warga beralih ke tambang demi penghasilan cepat.
Ia menyaksikan risiko besar di balik pilihan itu. Nyawa dipertaruhkan, sementara hasilnya kada pasti. Situasi ini mendorongnya untuk mencari solusi yang lebih aman bagi masyarakat.
“Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,” kata Wahyu.
Bagaimana Lahan Tidur Menjadi Harapan Baru?
Bagi Wahyu, solusi sebenarnya sudah tersedia di desa: tanah pertanian yang ditinggalkan. Ia melihat potensi besar jika lahan tersebut dihidupkan kembali.
Upaya pencegahan PETI menurutnya kada cukup hanya dengan penertiban. Alternatif ekonomi yang aman harus tersedia. Nah, di sinilah pertanian kembali dilirik sebagai jalan keluar.
Tahun 2022 menjadi titik penting. Gagasan Wahyu sejalan dengan program inovasi sosial Garitan Kalongliud dari PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor. Ia lalu memimpin Kelompok Taruna Muda untuk menghidupkan 35 hektar lahan terlantar.
Apa Tantangan Saat Menghidupkan Pertanian?
Perjalanan ini kada mulus. Harga pupuk kimia melonjak tajam, hama keong mas menyerang tanaman padi, dan pasokan air terbatas.
Namun Wahyu melihat masalah sebagai ruang inovasi. Ia mengembangkan Pupuk Organik Cair (POC) Beko dari fermentasi keong mas dan urin domba.
Langkah ini membawa dampak nyata. Bersama pemanfaatan 25 ton limbah kotoran domba, biaya pupuk berhasil ditekan hingga 50 persen. Bahkan, sistem irigasi tetes sederhana yang dirakit warga mampu menghemat penggunaan air hingga 60 persen. Nah, itu sudah, pahamlah ikam pentingnya inovasi lokal.
Bagaimana Petani Lepas dari Ketergantungan Tengkulak?
Transformasi tidak berhenti pada teknik budidaya. Wahyu juga membenahi jalur distribusi hasil panen.
Kelompok Taruna Muda berperan sebagai fasilitator pasar. Hasil panen dijual langsung ke Pasar Induk Kemang dan Kramat Jati, memotong rantai distribusi yang panjang.
Dampaknya terasa cepat. Pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen. Dalam periode 2024–2025, unit usaha cabai mencatat keuntungan bersih Rp246.258.000.
Tips Singkat dari Langkah Wahyu:
1. Manfaatkan limbah lokal untuk pupuk organik.
2. Bangun akses pasar langsung.
3. Gunakan teknologi sederhana seperti irigasi tetes.
Apa Dampak Sosial dari Gerakan Ini?
Hasilnya bukan sekadar angka. Program ini menjadi jaring pengaman sosial bagi masyarakat.
Yang paling mencolok, delapan mantan pelaku PETI kini beralih menjadi petani produktif. Desa mulai melihat arah ekonomi yang lebih stabil.
Secara makro, inisiatif kolaboratif bersama ANTAM mencatat nilai Social Return on Investment sebesar 4,34 dan menurunkan tingkat kemiskinan desa sebesar 6,52 persen. Wahyu pun menerima Environmental and Social Innovation Award 2025 sebagai Local Hero Inspiratif.
Bagaimana Regenerasi Petani Terus Berjalan?
Semangat ini tidak berhenti di satu generasi. Rumah Belajar Garitan kini menjadi ruang berbagi pengetahuan.
Lebih dari 696 orang telah berkunjung. Regenerasi petani muda mulai terlihat, termasuk Atang Sujai yang aktif mengembangkan formula pupuk organik untuk desa sekitar.
Bagi Wahyu, capaian terbesar bukanlah gelar atau penghargaan. Ia melihat kebanggaan justru hadir saat warga pulang ke rumah membawa hasil kerja yang aman.
“Kalau kita merawat tanah dengan hati, tanah akan merawat kehidupan kita. Dan kalau kita bergerak bersama, desa ini akan selalu punya harapan,” tutup Wahyu.
Insight: Langkah Wahyu menunjukkan bahwa solusi ekonomi desa kada selalu datang dari proyek besar. Justru pendekatan sederhana berbasis sumber daya lokal bisa menciptakan perubahan nyata. Ketika alternatif tersedia, pilihan berisiko perlahan ditinggalkan. Ini bukan soal teknologi tinggi, tapi keberanian mengubah arah. Desa memiliki potensi yang kadang terlupakan. Nah, pahamlah ikam, gerakan kecil bisa berdampak besar jika dikerjakan bersama.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang terinspirasi dari langkah nyata ini nah!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
1. Apa tujuan utama program pertanian ini?
Menyediakan alternatif ekonomi yang lebih aman bagi warga agar tidak bergantung pada aktivitas tambang ilegal.
2. Apa inovasi utama yang dilakukan Wahyu?
Penggunaan pupuk organik dari keong mas dan urin domba serta sistem irigasi tetes sederhana.
3. Apa dampak sosial dari program ini?
Delapan mantan pelaku PETI beralih menjadi petani produktif dan tingkat kemiskinan desa menurun.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.