Ikhtisar: Desa Kalongliud bangkit dari banjir, longsor, dan pandemi lewat program Garitan Kalongliud. Lahan tidur pulih, pendapatan petani naik, irigasi hemat air, dan ekonomi desa kembali berdenyut.
Balikpapan TV - Hai Cess! Desa Kalongliud di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, sempat berada di titik rapuh pada 2020. Banjir dan longsor merusak total jaringan irigasi. Sekitar 150 hektar lahan pertanian kekeringan. Puluhan petani dan ratusan buruh tani kehilangan stabilitas penghasilan.
Situasinya makin berat karena pandemi COVID-19 ikut menekan aktivitas ekonomi warga. Risiko krisis ganda muncul. Ketahanan pangan terancam, dapur rumah tangga ikut goyah. Tapi cerita kada berhenti di situ. Baca terus sampai tuntan Cess, karena dari lahan yang sempat tidur, lahir gerakan yang mengubah wajah desa.
Bagaimana Desa Kalongliud Bangkit dari Bencana dan Tekanan Ekonomi?
Kebangkitan itu dimulai dari kesadaran kolektif bahwa desa kada bisa bergantung pada cara lama. Setelah banjir dan longsor merusak irigasi, sebagian lahan berubah jadi lahan tidur. Produksi turun drastis, petani bekerja sendiri-sendiri, biaya tinggi, hasil belum tentu sepadan.
Tekanan pandemi mempersempit ruang gerak ekonomi. Aktivitas melambat, pendapatan tergerus. Desa menghadapi ancaman serius terhadap keberlanjutan. Kondisi ini memaksa lahirnya pendekatan baru yang lebih sistematis dan berbasis potensi lokal.
Dari titik itu, hadir inisiatif Garitan Kalongliud. Program ini diinisiasi Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor ANTAM bersama masyarakat desa. Bukan sekadar bantuan sosial, tapi model pertanian sirkular terpadu. Fokusnya jelas. Menghidupkan kembali lahan tidur, mengelola sumber daya air lebih efisien, serta memperkuat kelembagaan petani.
Baca Juga: Peran BRI Dorong Kredit Program Perumahan untuk Akses Rumah Terjangkau Nasional
Apa Itu Program Garitan Kalongliud dan Mengapa Disebut Pertanian Sirkular?
Garitan Kalongliud dirancang sebagai sistem terpadu, bukan proyek sesaat. Pendekatannya memanfaatkan kembali sumber daya lokal yang sebelumnya terabaikan. Lahan tidur seluas 35 hektar berhasil dipulihkan menjadi lahan produktif.
Konsep sirkular terlihat dari pengolahan limbah menjadi nilai tambah. Sekitar 25 ton kotoran domba diolah menjadi pupuk organik. Dampaknya terasa. Penggunaan pupuk kimia ditekan hingga 50 persen. Biaya produksi turun, tanah tetap terjaga kualitasnya.
Efisiensi juga diterapkan pada pengelolaan air. Sistem irigasi tetes meningkatkan efisiensi konsumsi air hingga 60 persen. Untuk wilayah yang sebelumnya mengalami tekanan sumber daya air, capaian ini krusial. Ditambah lagi, penanaman 3.000 pohon di sempadan Sungai Cinyurug berkontribusi menurunkan emisi karbon sebesar 21,5 ton CO₂eq per musim tanam.
Seberapa Besar Dampak Ekonomi Garitan Kalongliud bagi Petani?
Dampaknya terukur. Pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen. Biaya pupuk turun sekitar 50 persen. Pada periode budidaya cabai 2024–2025, keuntungan usaha mencapai Rp246.258.000.
Evaluasi berbasis Social Return on Investment atau SROI menunjukkan angka 4,34. Artinya, setiap satu rupiah investasi menghasilkan manfaat sosial lebih dari empat rupiah. Angka ini menggambarkan bahwa program berjalan efektif dan memberi dampak luas.
Perubahan juga terjadi pada pola kerja. Sebelumnya petani bekerja sendiri dan bergantung pada tengkulak. Kini mereka terorganisir dalam empat kelompok tani resmi melalui Surat Keputusan Desa. Badan Usaha Milik Desa berperan sebagai simpul pasar, memperkuat distribusi dan posisi tawar. Hama keong yang dulu merusak lahan kini dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik cair. Nah, itu sudah, dari hama jadi berkah, pahamlah ikam.
Siapa Saja yang Merasakan Manfaat Program Ini?
Manfaat program menjangkau banyak lapisan. Tercatat 869 penerima manfaat langsung dan 9.874 penerima manfaat tidak langsung. Angka ini menunjukkan dampak sosial yang luas.
Sebanyak 68 individu dari kelompok rentan ikut dilibatkan aktif. Di antaranya buruh tani, lansia, anak-anak, keluarga pra-sejahtera, hingga mantan pelaku pertambangan tanpa izin. Keterlibatan ini memperkuat fondasi sosial desa.
Indeks Kepuasan Masyarakat mencapai 90,82 persen. Angka tersebut mencerminkan penerimaan dan kepercayaan warga terhadap program. Desa bukan hanya memulihkan lahan, tapi juga membangun kembali struktur sosial ekonomi yang lebih solid.
Apa Peran Local Hero dan Dukungan Perusahaan dalam Transformasi Ini?
Transformasi desa kada lepas dari peran local hero. Sosok Kang Wahyu menjadi penggerak utama di tingkat desa. Bersama masyarakat, ia mendorong adopsi inovasi pertanian dan memperkuat kolaborasi komunitas.
Rumah Belajar Garitan dibangun sebagai pusat pembelajaran. Lebih dari 696 pengunjung lokal dan nasional sudah datang untuk belajar. Model ini mulai direplikasi di desa lain.
Sekretaris Perusahaan PT ANTAM Tbk, Wisnu Danandi Haryanto, menyampaikan, “Program Garitan Kalongliud menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga mencakup penguatan ekonomi dan ketahanan sosial. ANTAM meyakini bahwa pendekatan berbasis ekosistem mampu menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.”
Ia juga menegaskan bahwa model pertanian sirkular di Kalongliud diharapkan menjadi referensi penguatan desa berbasis potensi lokal serta mendukung strategi keberlanjutan perusahaan dalam menjaga stabilitas sosial dan lingkungan sekitar wilayah operasional.
Insight: Kisah Kalongliud menunjukkan pemulihan desa kada harus dimulai dari proyek besar yang mahal. Kuncinya ada pada desain sistem yang tepat dan kolaborasi konsisten. Pendekatan sirkular menekan biaya sekaligus menjaga lingkungan. Model ini realistis untuk desa dengan tekanan sumber daya. Bagi daerah lain, termasuk di Kaltim, konsep ini bisa jadi referensi pang. Tinggal disesuaikan dengan potensi lokal. Pahamlah ikam, pembangunan itu soal ketahanan jangka panjang, nah itu sudah.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham soal model pertanian sirkular dan kebangkitan desa berbasis komunitas, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”
FAQ
Apa itu Garitan Kalongliud?
Program pertanian sirkular terpadu yang diinisiasi UBPE Pongkor ANTAM bersama masyarakat Desa Kalongliud untuk memulihkan lahan, meningkatkan efisiensi air, dan memperkuat ekonomi desa.
Berapa luas lahan yang berhasil dipulihkan?
Sebanyak 35 hektar lahan tidur berhasil diubah menjadi lahan produktif melalui sistem pertanian terpadu.
Apa dampak ekonominya bagi petani?
Pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen, biaya pupuk turun 50 persen, dan usaha cabai 2024–2025 mencatat keuntungan Rp246.258.000.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia Redaksi. Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.