Balikpapan TV - Hai Cess! BRI bersama Danantara Indonesia kembali menunjukkan kerja nyata di lapangan. Kali ini, dukungan difokuskan pada pembangunan Rumah Hunian Danantara atau Huntara di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Hunian sementara ini disiapkan untuk memastikan masyarakat terdampak bencana tetap bisa menjalani kehidupan dengan aman, layak, dan manusiawi sambil menunggu hunian permanen terwujud.
Langkah cepat ini bukan cerita biasa. Dari percepatan pembangunan, sinergi BUMN, hingga dukungan logistik dan pembiayaan, semuanya bergerak serempak. Penasaran bagaimana Huntara ini dibangun, siapa saja yang terlibat, dan apa dampaknya bagi warga? Baca terus sampai akhir Cess!.
Apa peran BRI dalam pembangunan Huntara Aceh Tamiang?
BRI sebagai bagian dari Danantara Indonesia ikut ambil peran penting melalui dukungan pembiayaan dan pemenuhan kebutuhan logistik. Peran ini dijalankan bersama Himpunan Bank Milik Negara lainnya dalam payung program BUMN Peduli. Fokusnya jelas, memastikan pembangunan Huntara berjalan cepat dan berkelanjutan untuk masyarakat terdampak bencana.
Kontribusi BRI ditegaskan oleh Corporate Secretary BRI, Dhanny. Ia menyampaikan bahwa keterlibatan BRI merupakan bentuk komitmen nyata dalam mendukung pemulihan pascabencana. Dukungan tersebut diarahkan agar proses rehabilitasi masyarakat bisa berlangsung lebih cepat dan terkoordinasi.
Huntara sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal transisi yang aman dan layak. Harapannya, kebutuhan dasar warga terpenuhi selama menunggu hunian permanen dibangun. Nah, di titik ini, peran BRI tidak sekadar administratif, tapi benar-benar menyentuh kebutuhan lapangan, pahamlah ikam di sini Cess!.
Baca Juga: Keren! Ini Capaian BRI Sepanjang Tahun 2025 yang Berdampak Langsung ke Masyarakat
Seberapa cepat progres pembangunan Huntara saat ini?
Pembangunan Huntara dimulai pada 24 Desember 2025 dan menunjukkan percepatan signifikan. Sebanyak 600 unit direncanakan diserahkan kepada Pemerintah Daerah pada 8 Januari 2026 untuk kemudian diberikan kepada warga terdampak bencana di Aceh Tamiang.
Target berikutnya lebih besar. Dalam tiga bulan ke depan, pembangunan akan dilanjutkan hingga mencapai 15.000 unit Huntara. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan hunian layak sementara bagi keluarga yang terdampak secara langsung.
Presiden RI Prabowo Subianto saat kunjungannya ke Aceh Tamiang pada 1 Januari 2026 menegaskan bahwa negara harus bergerak cepat meringankan penderitaan masyarakat. “Danantara Indonesia membuktikan bahwa kita bisa membangun 600 hunian, semua pihak telah bekerja dengan gemilang, dengan cepat,” ujarnya. Nah’ itu sudah, kerja cepat bukan sekadar janji Cess!.
Fasilitas apa saja yang tersedia di kawasan Huntara?
Huntara dibangun sesuai standar kelayakan hunian darurat. Setiap unit memiliki struktur aman, akses air bersih, fasilitas sanitasi, pasokan listrik, serta dukungan layanan kesehatan. Ini bukan sekadar tempat berteduh, tapi ruang hidup yang layak untuk keluarga.
Kawasan Huntara juga dilengkapi fasilitas umum penunjang aktivitas sosial. Tersedia klinik, taman bermain, serta akses internet dan listrik tanpa biaya. Kehadiran fasilitas ini diharapkan membantu warga tetap produktif dan terhubung, meski dalam kondisi pascabencana.
Selain itu, sarana ibadah seperti mushola turut disiapkan, bersama toilet dan fasilitas sanitasi lainnya. Semua dirancang agar kehidupan sehari-hari masyarakat bisa berjalan normal sebisa mungkin. Cita-cita hidup tenang di tengah pemulihan, nah’ itu sudah diperjuangkan di sini Cess!.
Bagaimana sinergi BUMN mempercepat pemulihan masyarakat?
Pembangunan Huntara tahap pertama merupakan hasil kolaborasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia. PT Perkebunan Nusantara III menyediakan lahan, sementara tujuh BUMN Karya mengerjakan konstruksi dengan sistem percepatan dan modular, dipimpin oleh PT Hutama Karya sebagai koordinator lapangan.
Dukungan infrastruktur diperkuat oleh PT PLN yang memastikan pasokan listrik, serta PT Telkom Indonesia yang menghadirkan konektivitas komunikasi. Di sisi pembiayaan dan logistik, Himbara melalui Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, dan BSI turut mengerahkan sumber daya.
Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa Huntara bukan hanya solusi jangka pendek. “Huntara ini menjadi jembatan penting menuju fase hunian permanen dan pemulihan ekonomi masyarakat,” jelasnya. Sementara COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyoroti disiplin eksekusi BUMN sebagai kunci tercapainya target waktu. Ini contoh nyata peran sosial BUMN, bukan cuma urusan bisnis, pahamlah ikam Cess!.
Ikhtisar
BRI bersama Danantara Indonesia dan BUMN lainnya bergerak cepat membangun Huntara di Aceh Tamiang sebagai hunian sementara layak bagi masyarakat terdampak bencana. Pembangunan 600 unit tahap awal ditargetkan selesai awal Januari 2026, dengan rencana 15.000 unit dalam tiga bulan. Huntara dilengkapi fasilitas dasar hingga sosial, menjadi jembatan menuju pemulihan permanen dan kehidupan yang lebih stabil.
Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam dan kekawalan ikam supaya makin banyak yang paham soal kerja nyata pemulihan pascabencana Cess!.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
Apa itu Rumah Hunian Danantara (Huntara)?
Huntara adalah hunian layak sementara bagi masyarakat terdampak bencana sebelum hunian permanen tersedia.
Siapa saja yang terlibat dalam pembangunan Huntara Aceh Tamiang?
Danantara Indonesia, BRI, Himbara, berbagai BUMN Karya, PLN, Telkom, serta pemerintah daerah.
Kapan Huntara mulai diserahkan kepada warga?
Sebanyak 600 unit direncanakan diserahkan pada 8 Januari 2026 melalui Pemerintah Daerah.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.