Ikhtisar: PLN Group melalui PLN Nusantara Power Construction menuntaskan dua titik elektrifikasi proyek kereta listrik ECRL Malaysia lebih cepat dari jadwal. Capaian ini mendapat apresiasi mitra proyek dan menunjukkan kapasitas teknis Indonesia di level global.
Balikpapan TV - Hai Cess! PLN Group kembali mencatat capaian penting di panggung internasional. Melalui subholding PT PLN Nusantara Power, anak usaha PT PLN Nusantara Power Construction sukses menuntaskan dua titik proyek elektrifikasi East Coast Rail Link (ECRL) di Malaysia lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan.
Proyek yang rampung lebih awal itu mencakup Feeder Station 01 di Tunjung, Kelantan dan Feeder Station 09 di Jambu Rias, Pahang. Penasaran bagaimana proyek ini bisa selesai lebih cepat dan kenapa pencapaian ini mendapat perhatian di level internasional? Ikuti terus sampai tuntas Cess!
Kenapa penyelesaian proyek elektrifikasi ECRL ini mendapat perhatian?
Penyelesaian lebih cepat dari target menjadi sorotan utama dalam proyek ini. Feeder Station 01 di Tunjung, Kelantan selesai 15 hari lebih awal dari jadwal. Sementara Feeder Station 09 di Jambu Rias, Pahang bahkan rampung sekitar satu bulan sebelum target.
Kecepatan tersebut langsung mendapat apresiasi dari Tenaga Switchgear sebagai Project Delivery Partner dan Tenaga Nasional Berhad selaku pemilik jaringan listrik. Pencapaian ini dinilai sebagai bukti komitmen kuat dalam memastikan proyek berjalan cepat tanpa mengorbankan kualitas.
Head Project Management Office Tenaga Nasional Berhad, Tn Azreen Bin Othman menyampaikan apresiasinya.
"Lebih awal dari target yang ditetapkan. Ini merupakan capaian yang sangat membanggakan. Kami melihat PLN menunjukkan komitmen dan kesungguhan yang tinggi dalam memastikan proyek ini selesai dengan cepat tanpa mengesampingkan kualitas."
Nah, pencapaian ini bukan sekadar soal waktu pang. Ini menunjukkan kemampuan teknis tim proyek yang mampu menjaga kualitas sekaligus mempercepat penyelesaian pekerjaan.
Apa sebenarnya proyek East Coast Rail Link yang dikerjakan di Malaysia?
East Coast Rail Link atau ECRL merupakan proyek kereta listrik jalur ganda sepanjang 665 kilometer. Jalur ini menghubungkan Port Klang di Selangor hingga Kota Bharu di Kelantan.
Kereta ini dirancang untuk melayani transportasi penumpang sekaligus pengangkutan kargo. Seluruh operasionalnya menggunakan tenaga listrik. Sistem ini dirancang untuk efisiensi energi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Saat mulai beroperasi pada 2027, proyek ini diproyeksikan mampu menekan emisi karbon hingga satu juta ton CO₂ per tahun. Artinya, pembangunan jaringan listrik untuk jalur kereta ini memiliki peran penting dalam mendukung transportasi rendah karbon di kawasan Asia Tenggara.
Pahamlah ikam, proyek kereta listrik skala raksasa seperti ini bukan hanya soal rel dan gerbong. Infrastruktur kelistrikan menjadi tulang punggungnya.
Bagaimana peran PLN Group dalam proyek strategis lintas negara ini?
Dalam proyek ECRL, PLN Group terlibat sebagai bagian dari konsorsium Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning atau EPCC.
Peran perusahaan dibagi dalam beberapa bagian. PLN Nusantara Power bertanggung jawab pada pengadaan peralatan utama yang dibutuhkan dalam sistem elektrifikasi.
Sementara PLN Nusantara Power Construction menjalankan beberapa tugas penting sekaligus. Mulai dari pengadaan peralatan pendukung, pelaksanaan konstruksi, hingga proses komisioning.
Direktur Utama PLN (Persero), Darmawan Prasodjo menjelaskan bahwa keberhasilan ini menjadi bagian dari strategi ekspansi global perusahaan.
"Keberhasilan ini menjadi pijakan strategis bagi PLN Group untuk terus memperluas proses bisnis di level internasional. Dengan kompetensi teknis dan pengalaman di bidang kelistrikan yang dimiliki, kami yakin mampu menyelesaikan proyek sesuai standar internasional sekaligus mengharumkan nama bangsa di level dunia."
Nah, proyek lintas negara seperti ini memang menjadi panggung pembuktian kemampuan perusahaan nasional.
Seberapa besar kontribusi teknis PLN dalam proyek elektrifikasi ECRL?
Secara teknis, PLN Group mengerjakan empat dari total sepuluh Feeder Station dalam proyek ECRL. Titik yang dikerjakan meliputi FS1, FS2, FS9, dan FS10.
Proyek ini dimulai pada Juni 2024 dan dijadwalkan rampung seluruhnya pada Juni 2026.
Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah menjelaskan bahwa penyelesaian lebih cepat dari target menjadi bukti kapabilitas perusahaan dalam proyek strategis lintas negara.
"Penyelesaian lebih cepat dari target menjadi bukti bahwa perusahaan Indonesia mampu bersaing dan dipercaya dalam proyek strategis lintas negara. Ini bukan hanya pencapaian bisnis, tetapi juga kebanggaan nasional."
Jadi, keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada proyek itu sendiri, tetapi juga memperkuat reputasi teknis perusahaan Indonesia di sektor energi.
Pengalaman teknis apa yang membuat PLN NPC mampu menyelesaikan proyek ini lebih cepat?
Direktur Utama PLN Nusantara Power Construction, Djarot Hutabri menjelaskan bahwa perusahaan telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade di bidang pembangkitan dan transmisi listrik.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam pengerjaan proyek elektrifikasi ECRL.
Dalam proyek ini PLN NPC menjalankan desain dan pembangunan sistem elektrifikasi Feeder Station. Pekerjaan teknisnya meliputi pembangunan 132 kV Switching Station, instalasi Overhead Transmission Line serta Underground Cable sepanjang 3 kilometer.
Selain itu terdapat pula berbagai pekerjaan pendukung lain untuk memastikan sistem kelistrikan dapat beroperasi sesuai standar proyek.
Djarot menegaskan komitmen tim dalam proyek ini.
"Capaian ini mencerminkan kapabilitas, profesionalisme, dan komitmen seluruh insan PLN NPC dalam menghadirkan layanan konstruksi ketenagalistrikan yang andal, tepat waktu, dan berstandar global. Apresiasi dari TSG dan TNB menjadi bukti bahwa kami mampu memberikan nilai tambah bagi mitra strategis."
Poin penting dari capaian proyek ini:
1. Dua titik elektrifikasi ECRL di Malaysia selesai lebih cepat dari jadwal.
2. FS01 di Kelantan selesai 15 hari lebih awal dari target.
3. FS09 di Pahang rampung sekitar satu bulan lebih cepat.
4. PLN Group mengerjakan empat dari sepuluh Feeder Station dalam proyek ECRL.
5. Proyek kereta listrik ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Insight: Keberhasilan proyek ini memperlihatkan bagaimana kemampuan teknis perusahaan Indonesia mampu tampil di proyek lintas negara. Bukan cuma soal percepatan pekerjaan, tetapi juga soal kepercayaan mitra internasional. Proyek ECRL menjadi contoh bahwa pengalaman panjang di sektor kelistrikan dapat diterjemahkan menjadi reputasi global. Nah, bagi bubuhan yang mengikuti perkembangan energi, capaian seperti ini menunjukkan bahwa kompetensi lokal bisa bersaing di panggung regional, pahamlah ikam.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham perkembangan proyek energi dan transportasi di kawasan Asia Tenggara, nah tolong nah Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, "Bukan Sekadar Info Biasa!"
FAQ
Apa itu proyek East Coast Rail Link (ECRL)?
ECRL merupakan proyek kereta listrik jalur ganda sepanjang 665 kilometer yang menghubungkan Port Klang di Selangor hingga Kota Bharu di Kelantan.
Apa peran PLN dalam proyek tersebut?
PLN Group melalui PLN Nusantara Power dan PLN Nusantara Power Construction terlibat dalam pengadaan peralatan, konstruksi, dan komisioning sistem elektrifikasi.
Mengapa penyelesaian proyek lebih cepat dianggap penting?
Karena menunjukkan kemampuan teknis, manajemen proyek yang baik, serta komitmen menjaga kualitas meski pekerjaan selesai sebelum jadwal.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.